Kamis, 18 Agustus 2011

Aku ingin menjadi istrimu* ( Asma Nadia)


"Bang, aku ingin menjadi istrimu," pintaku pelan.

Tapi lelaki, tempat cintaku berlabuh setahun ini, bagai tak mendengar. Ia terjerat hari-hari yang sibuk. Pergi pagi, dan pulang ketika senja usai. Tak jarang dini hari baru pintu rumahnya terdengar berderit.

Aku tahu, karena hampir tiap malam aku menunggunya. Kesetiaan, yang membuahkan kantung yang menggelap di bawah mataku.

"Kenapa matamu, Nia? Makin hari makin tak bersinar saja. Jangan terlampau sering begadang."
Mama, seperti juga yang lain, tak pernah mengerti alasanku berjaga tiap malam. Tak ada yang memahami apa yang kutunggu. Kecuali Bandi, tempat cintaku bersandar. Ia tak pernah sekalipun menyinggung soal mataku yang kian cekung. Mungkin karena lelaki seperti dia mengerti jerih payah orang yang mencintai. Kesetiaan yang mengalahkan penglihatan fisik.


Tidak seperti pasangan-pasangan lain, dalam angan kebanyakan orang, kami memang berbeda. Kesibukan Bandi menafkahi keluarganya, membuat lelaki itu harus bekerja ekstra keras. Meskipun begitu, pertemuan kami rutin. Walaupun hanya sebentar sekali.



Di luar waktu kerjanya sebagai wartawan, lelaki itu menyempatkan diri menulis cerpen, puisi, resensi, opini, apa saja, untuk banyak media. Komputer, ia belum punya. Itulah mengapa Bandi rajin berlama-lama di kantor.



Dan sebagai pasangan yang setia, aku harus mengerti.



Sosoknya yang pekerja keras, itu yang membuatku makin terpikat. Jatuh hati kian dalam. Lainnya?



"Abang bisa mengetik di rumah. Kapan saja Abang mau. Tak usah sungkan."



Minggu sore itu, dengan baju kurung yang baru selesai dijahitkan Mama semalam, kami berbincang sebentar di teras rumah. Tapi tawaranku yang tak sepenuhnya tulus, hanya karena ingin bersamanya lebih sering, ditolaknya halus.



"Jangan, Nia. Abang pulang dari kantor sudah malam. Tak enak sama orang tuamu.”



Kalimat tegasnya menunjukkan kemandirian, dan mental yang bukan aji mumpung. Bukan tanpa alasan aku menawarinya mengetik, mengingat kami punya lebih dari enam komputer di rumah. Paviliun rumah memang sejak lama aku jadikan rental komputer dan warnet. Meski awalnya tak setuju karena orangtuaku berpikir kami tak kekurangan uang, toh rental yang kukelola kemudian berjalan semakin baik. Uang mengalir, pelanggan puas. Di sisi lain, aku tak pernah lelah menanti Bandi pulang. Tidak masalah apakah ia pulang lebih awal, seperti yang sesekali terjadi, atau bahkan menjelang pagi. Sosoknya yang kukuh dengan ransel hitam di punggungnya, tak pernah terlewat dari mataku.





*****





"Aku ingin jadi istrimu, Bang." bisikku lagi.



Tahun kedua berlalu, dan waktu makin meluruhkan hatiku atas sosok keras bernama Bandi. Lelaki tegap, dengan kulit kecoklatan yang baik hati dan perhatian.



"Pagi-pagi begini sudah buka?"



Aku mengangguk. Menyembunyikan debaran jantung yang gemuruh, dan napas tersengal karena berlari dari kamar, hanya untuk mengejar bayangnya.



"Bang Bandi pun sepagi ini sudah jalan? Biasanya jam tujuh seperempat, kan?"



Lelaki itu tertawa. Giginya yang kecil-kecil berbaris rapi. Memberikan pemandangan yang membuatku jatuh cinta, lagi dan lagi. Perasaan yang membuatku seperti tak pernah merasa cukup mengambil kursus. Kemarin belajar masak, lalu bikin kue, kemudian menjahit, ahh apa lagi? Biarlah, yang penting aku bisa membahagiakan Bandi.



Di depanku lelaki pujaan itu masih tersenyum. Baru kemudian kusadari sesuatu yang membuatku tersipu. Apa kataku barusan? Tujuh seperempat? Ah, pengamatan yang sedetil itu, sungguh memalukan! pikirku terlambat.



Tapi Bandi menutup perasaanku yang tak karuan dengan senyum lebar, dan sebuah buku di tangannya.



"Untukmu, Nia. Belum terlalu lama terbit. Bagus sekali isinya tentang...."



Dan lelaki yang tadi berjalan tergesa-gesa, untuk sesaat seperti lupa bahwa ia sedang memburu waktu. Dengan antusias, kedua tangannya bergerak-gerak, memberiku gambaran sepintas isi buku yang disodorkannya.



Wajahnya yang semangat.



Aku menatapnya, dengan perasaan terjerembab. Kagum dengan sosoknya yang



cerdas, sekaligus merasa beruntung karena aku diberi kesempatan mencintainya.



Hari-hari kami sederhana namun indah. Ia membawakanku banyak buku, yang kubalas dengan setoples kue-kue buatanku sendiri. Begitu indahnya hingga tahun ketiga berlalu. Kemudian terlewat tahun keempat. Selama itu, aku tak pernah lelah mengungkapkan dan menyatakan betapa ingin aku menjadi istrinya.



Bandi tak pernah menjawab keinginanku. Aku menenangkan diri dengan berbagai pikiran positif. Barangkali kesibukan, mungkin ia belum merasa siap, ucapku menghibur hati, setiap kali perasaan ragu timbul.



Tapi kesabaran akan penantian, boleh jadi hanya milikku. Sebab Mama kemudian seperti tak punya kerjaan lain, kecuali memburuku dengan kalimat itu.



"Menikahlah, Nia. Apalagi yang kau tunggu?"



Bandi! Tak ada yang lain. Dan tak bisa yang lain!



Tahun berikutnya, Papa ikut mendesakku.



"Anak Om Hasnan baik, Nia. Kehidupannya pun mapan. Dia direktur termuda, di perusahaan Om Hasnan."



Aku tidak sedikit pun tertarik. Lelaki yang kaya karena cucuran harta orang tua, mana bisa memenangkan hatiku? pikiranku terbawa pada Bandi. Sosoknya, kerja kerasnya, peluh keringat yang tampak jelas masih menempel di dahinya, setiap melintasi jendela kamarku.



Anak Om Hasnan mungkin baik, tapi dia tidak seperti Bandi.



Lalu calon-calon lain disodorkan. Tetapi setiap kali, kepalaku makin terlatih menggeleng dan melahirkan helaan napas putus asa dari Papa.



Mama mendekatiku dengan cara serupa. Menawarkan calon demi calon yang dirasanya pantas, dan mengangkat martabat orang tua.



Tapi selalu saja kutemukan nilai minus pada mereka. Gilang, tak pernah serius. Herry terlalu adventurir, buat seorang Nia yang pecinta rumah. Sementara Agus terlalu matematis.



Cuma Bandi;, yang cerdas dan memiliki sikap merakyat, yang merebut semua nilai plus, bahkan dalam kesederhanaannya.



Cuma Bandi, yang membuatku tak sungkan merendahkan harga diri dengan berkali-kali mengungkapkan harapanku. Tak pernah bosan membisikkan kalimat itu,



“Aku ingin menjadi istrimu,"



Namun seperti yang sudah-sudah, kalimatku hanya terbawa angin, dan menguap tanpa bekas.



Bandi, seperti tak menyediakan tempat, untuk sebuah pernikahan.





*****





“Cinta,”



Suatu hari kudengar kalimat itu dari bibirnya. Jelas, tanpa keraguan.



“Cinta harusnya saling mengerti, hanya dengan menatap. Bukan begitu Nia? Cinta, harusnya tak perlu membuat dua orang kekasih harus saling mengemis. Cinta….”



Ia mendesah. Pandangannya nanar. Aku bisa merasakan kesedihan hatinya hari itu.



Tapi cintaku tak berkata apa-apa lagi. Ia pergi setelah lebih dulu menyodorkan sebuah buku yang membuatku menangis berhari-hari. Sungguh, belum pernah ada kisah asmara yang kubaca dan menorehkan begitu banyak kesedihan, setelah Romeo dan Juliet.



“Bagus sekali, Bang. Nia sampai menangis dibuatnya.”



Bandi hanya tersenyum tipis. Tangannya yang kokoh menerima buku yang kukembalikan. Tuhan, begitu ingin aku bersandar dalam rengkuhannya.



Tapi tangan itu selalu sopan, tak pernah menjamahku.



“Cinta itu menghormati, Nia. Cinta tak saling memanfaatkan.”



Aku mengangguk. Seperti biasa terbius oleh kata-kata Bandi. Terpesona oleh akuratnya kata dan laku lelaki itu.



Bandi tak menyentuhku, bukan tak cinta. Justru karena ia cinta. Bukankah seperti katanya, cinta itu tak kurang ajar? Cinta menghormati?



“Bang, aku ingin menjadi istrimu,” bisikanku mulai bercampur isak. Ahh, betapa inginnya. Kenapa Bandi tak bisa mengerti? Bukankah dua orang yang saling menyinta harusnya saling memahami, hanya dengan memandang?



Lalu bertubi-tubi, kegembiraan yang menyedihkan itu datang.



“Kak Nia, maafkan Ita.”



Aku mengangguk. Meski sesudahnya aku perlu berhari-hari untuk menumpahkan tangis dalam diam di bantalku.



Lalu Riza, Nina, dan terakhir….



“Kak, Linda minta maaf.”



Giliran adik bungsuku meminta. Aku mengangguk. Menahan air mata yang menggayut memberati mataku. Seharusnya aku bahagia, adik-adikku menamatkan kisah cinta mereka lebih dini.



Pernikahan adik bungsuku dirayakan besar-besaran oleh kedua orang tua kami. Seolah Mama dan Papa telah letih, dan memutuskan tak perlu menyimpan sedikit pun tabungan untuk anak mereka yang sulung.



Tapi tahun memang berlalu secepat malam tiba. Aku tak menyadari kapan Mama dan Papa mulai berhenti memintaku menikah. Yang kutahu tak ada lagi nama-nama yang mereka sodorkan padaku. Awalnya hal itu membuatku merasa bebas, ya…bebas menunggu Bandi. Baru kemudian kusadari hatiku yang hempas, anehnya oleh sesuatu yang tak pernah berubah.



Bandi tak berubah sedikit pun. Masih seperti dulu. Pergi jam tujuh seperempat, dan pulang ketika malam tenggelam. Sosoknya pun masih sama, sabar, kuat dan perhatian.



Aku pun tak pernah berubah. Masih menemaninya dengan setia. Berdandan rapi di pagi hari untuk melepasnya ke kantor. Malamnya, menanti kepulangan lelaki itu meski hanya lewat gorden jendela kamarku.



Tidak tahukah Bandi bahwa kedua mataku ini hanya bisa terlelap setelah memastikan sosoknya yang gagah memasuki rumah?


Tapi ketiadaan kemajuan dalam hubungan kami tidak membuatku berhenti meminta. Seperti juga malam itu.



“Bang, aku ingin menjadi istrimu,” kataku pelan dengan air mata meleleh.



Tapi Bandi meski tetap ramah dan baik hati, seperti yang sudah-sudah tak juga menanggapi. Padahal kesabaranku, bakti dan kesetiaanku…. Lalu kue-kue yang selalu berganti resep setiap minggu?



“Bikin kue apalagi sepagi ini, Nia?”



Aku tak menjawab pertanyaan Mama. Sudah pukul tujuh lewat sepuluh. Lima menit lagi Bandi akan lewat, dan aku tak boleh terlambat.



Kakiku bergegas ke pintu depan. Di tanganku, setoples kue coklat bertabur kismis, tampak manis dan menggoda.



Bersyukurlah, dalam kesederhanaan. Dalam ketiadaan. Bersyukur dengan apa yang kita miliki.



Bandi sering mengulang-ulang kalimat itu. Mungkin maksudnya supaya aku tak lagi berulang-ulang mengucapkan kalimat itu, keinginanku untuk menjadi istrinya. Aku mengangguk. Melambaikan tangan pada Bandi yang pagi itu melintas dengan banyak tas di tangan.



Berikutnya adalah hari-hari yang tak kumengerti. Sebab Bandi tak pernah kelihatan lagi. Ia lenyap dan dengan cepat kusadari ketika malam itu hingga azan Subuh bergema, aku tak melihat lelaki tercinta itu memasuki rumahnya.



Perasaan panik serta-merta melanda diriku. Ya Allah, sesuatu mestilah menimpa lelaki terkasih itu.



Tapi, kecuali aku, sepertinya tak ada orang lain yang merasa kehilangan. Bahkan tidak ayah dan ibu, serta adik-adiknya yang enam orang itu.



Aku mulai menangis. Selama beberapa hari bahkan tak ada sesuap nasi pun yang bisa kutelan. Ketika sepekan lewat dan Bandi tak juga kembali, aku menenggelamkan diri dalam kamar. Menguncinya dan tidak membiarkan siapapun mengusik kesedihanku.



Bandi, sesuatu pasti terjadi pada dia! batinku tak mungkin dibohongi. Keluarga Bandi pastilah hanya menghibur ketika mengatakan lelaki itu mendapatkan pekerjaaan dengan gaji besar di luar negeri. Tidak mungkin Bandi tak mengabarkan padaku informasi sepenting itu. Bukankah aku cintanya, seperti dia cintaku?



Setiap hari, kuhabiskan waktu dengan meringkuk di kamar, sementara mataku terus terpaku, mengintip dari balik gorden, mencari-cari bayangan Bandi yang bisa kapan saja datang, mungkin dalam keadaan terluka. Oh Tuhan!



Kedua mataku terasa penat karena terlalu banyak menangis dan berjaga. Aku tak lagi ingat makan, mandi, bahkan tak peduli sama sekali dengan kelangsungan rental yang kurintis. Bandi lebih penting dari itu semua!



Mama dan Papa serta adik-adikku tentu saja terlihat sedih. Tapi mereka sama sekali tak paham apa yang kurasa. Gelombang kepedihan, perasaan hampa, seolah hampir seluruh nyawaku tercerabut, membuatku tak memiliki keinginan melakukan apapun.



Syukurnya, melewati tiga bulan dalam masa-masa berduka, setitik harapan muncul.



Bandi tak apa-apa. Perasaanku mengatakan dia masih hidup, dan bisa pulang kapan saja. Mungkin sebentar lagi.



Lalu tubuhku dirasuki tenaga baru. Hari itu kuputuskan keluar kamar. Sinar matahari yang selama ini kumusuhi, segera saja menyipitkan mataku. Tapi kegembiraan meledak-ledak, mengalahkan semua keengganan.



Cepat, seperti tak ingin kehilangan waktu, aku mengambil baju yang paling baik yang kupunya, lalu berlari ke kamar mandi. Menyeka tubuhku keras-keras dengan spon sabun, hingga bersih dan dipenuhi aroma harum sabun. Selepas mengenakan baju, kusemprotkan minyak wangi, lalu berhias secantik mungkin.



Orang-orang yang tak mengerti mengatakan bedakku terlalu tebal. Aku hanya mencibir. Mereka tak memahami sosok istimewa yang kunanti.



Tapi hari itu Bandi belum pulang. Tak apa. Yang penting adalah aku selalu siap, jika ia sewaktu-waktu datang. Bajuku harus rapi, tubuhku harus wangi, rambutku harus selalu dikeramas tiap hari. Bedak, sedikit lipstik kucoretkan dibibirku yang akhir-akhir ini sering pecah-pecah. Aku tak ingin ada yang terlewat. Semua harus sempurna, ketika Bandi pulang nanti.



Lelaki itu sudah pergi lama, ia pasti kangen padaku. Pada canda tawa kami, pada hubungan sederhana namun indah yang selama ini terjalin. Ia juga pasti rindu dengan kue-kueku. Ya Tuhan, sudah berapa lama aku tak lagi membuat kue-kue dan menaruhnya di toples, untuk Bandi?



Maka sejak hari itu, telah kutekadkan, supaya tak ada hari berlalu tanpa kue-kue baru yang kubikin. Bukankah sebentar lagi tahun baru tiba, dan Bandi mungkin akan pulang?



Ketika tahun baru lewat, dan aku menunggui Bandi di depan pagar rumah kami hingga kedinginan, Mama menyelimuti tubuhku yang menggigil dengan selimut. Tapi aku tetap menunggu.



Mungkin Bandi akan pulang ketika musim liburan. Mungkin bulan puasa tahun depan. Hmm, tidak! Aku tersenyum. Bandi akan pulang lebaran tahun depan, pasti!



Pikiran itu membawa langkahku ke ruang dalam. Bukan ke kamar seperti harapan kedua orang tuaku. Pikiranku padat oleh banyaknya pekerjaan yang akan menungguku sampai Bandi pulang nanti. Membuat kue-kue kesukaan lelaki tercinta itu. Juga baju baru. Sambil tanganku sibuk mengaduk adonan tepung terigu bercampur gula, keju dan entah apa lagi, pikiranku mengembara. Mengenang Bandi. Betapa rindunya.



Besok dan besoknya lagi, kesibukan yang sama menungguku. Kue-kue dan jahitan baju baru. Setiap hari. Aku ingin siap ketika Bandi pulang. Aku ingin rapi, ingin cantik.



Sedikit pun tak ada kesangsian akan kesetiaan Bandi padaku. Meski terdengar kabar Bandi telah menikah, atau Bandi sudah betah di luar negeri dan tak ingin kembali, aku tak pernah percaya.



Suatu hari Bandi akan pulang dan memenuhi permintaanku untuk menjadi istrinya. Seperti yang selama ini selalu kubisikkan dalam hatiku menjelang tidur.



“Bang, aku ingin menjadi istrimu.”



Dan aku tahu, Bandi mengerti perasaanku sepenuhnya. Permintaanku.



Sebab cinta harusnya saling mengerti, hanya dengan memandang. (Bukan begitu Nia?) Cinta, harusnya tak perlu membuat dua orang kekasih saling mengemis. Cinta….



Sebening Telaga


Sebening Telaga (Ardi Nugroho)

KotaSantri.com - Baru saja aku menyelesaikan shalat Dhuha ketika terdengar suara pintu diketuk berlahan beberapa kali, kukemasi mukenaku diletakkan di sisi pembaringan, sebentar kurapikan gamisku dan kusambar jilbab putih kesukaanku. Aku melangkah tergesa kusikap tirai sedikit dan dahiku sedikit terkejut. Sesosok tubuh berdiri dibalik pintu dengan mulut mendendangkan lagu yang aku sendiri nggak pernah dengar baitnya. Sedikit bimbang aku terpekur sejenak, kulirik jam yang menempel manis di dinding, sudah jam 8 pagi gumamku. Bismillah, kubuka pintu berlahan.



"Nisa. Nisa datang ya. Kemaren aku dengar dari Mbak Titik.. Seneng kalo Nisa datang.. Nisa bawa apa? Bawa oleh-oleh ya. Mana.. mana oleh-olehnya?" ternyata tamunya Om Ron adik sepupu dari Ummi, dia memang selalu bergegas ke rumah bila Ummi mengabarkan tentang kedatanganku, dan seperti biasa ketika datang selalu diawali dengan pertanyaan yang bertubi-tubi, dan untuk menyikapinya aku hanya tersenyum.



"Om, Nisa buatkan minum ya, susu hangat, kopi susu hangat, apa teh?"



"Wah terima kasih Nisa, apa aja deh. Yang penting nanti Nisa harus memberi oleh-oleh. Kalo nggak bawa, Nisa harus dongengin cerita Nabi-Nabi."



"Tenang Om, Nisa buatkan minum dulu ya?"



Aku masuk ke dalam, dari dalam kulihat Om Ron sudah sibuk membolak-balik majalah-majalah Islam ku, dia memang sangat haus dan selalu antusias membaca apalagi yang berhubungan dengan Islam.



Tiba-tiba ada yang menyenggolku dari belakang, ternyata si bontot Layla, dia baru pulang belanja dengan Ummi.



"Mbak kenapa sih Om Ron selalu kesini kalo Mbak Nisa datang, huh Layla kan sering diolok-olok teman-teman, Mbak?"



"Diolok-olok apa sayang?



"Eh. Layla.. punya Om idiot.. Layla keturunan idiot. Layla kan malu."



Aku hanya tersenyum dengar celotehan adek tersayangku.



"Layla nggak boleh begitu, itu kan Om Layla, Layla harus sayang sama Om Ron, walau Om Ron agak terbelakang tapi dia kan baik ama semua orang, apalagi Layla kan pernah diajari ustadz di masjid kalo semua orang itu sama, yang membedakan hanya amal ibadahnya?"



Ummi menyahut dari belakang. Layla masih dengan muka cemberut mengangguk. Kutinggalkan mereka, aku menuju ke ruang tengah.



"Ini Om diminum, lama ya.."



"Nisa baik ya ama Om."



"Ini Nisa bawakan kumpulan kisah Nabi-Nabi dan Para Sahabat Nabi, Om harus baca ya." Mata Om Ron berbinar, kutemukan ketulusan disana.



"Tentu.. tentu Om baca, dan nanti setelah Om baca Om mau ceritain ke Layla, juga ke Iput anaknya Tante Dewi, ke Cici, Pita, dan Ayu."



"Yang kemaren sudah dibaca Om?"



"Sudah. Sudah Om baca 5 kali Nisa, soalnya Om seneng sih sama ceritanya, apalagi yang kisah Si kecil pemberani. Om sudah ceritakan di depan kelas.."



"Oh iya Om nggak sekolah. Ini kan hari sabtu, Om kan masih masuk."



Om Ron sudah tingkat 5 di SLB bagian A tempat anak-anak terbelakang mental.



"Iya Om terlambat nggak apa-apa kok, nanti Om akan bilang kalo habis mengambil oleh-oleh dari Nisa."



"Iya Ron itu becaknya sudah nunggu dari tadi, kan kasian!!!" Ummi dari dalam membawa sekotak kue, dan sebotol Susu rasa coklat kesenangan Om Ron.



"Ini dibawa, dimakan waktu istirahat."



Sebelum pergi Om Ron pamit ke Ummi, dan tak lupa mencium sayang si bontot Layla.



Om Ron adalah adik sepupu dari Ummi, anak adiknya Nenek. Dia anak terkecil, kata Ummi dari kecil dia memang agak terbelakang dalam menangkap pelajaran, makanya dimasukkan ke SLB, namun yang membanggakan dia sangat senang membaca, apalagi yang religi, dan shalatnya pun rajin.



"Nisa nanti ada acara nggak?" Ummi menepuk bahuku dari belakang, pasti Ummi mau mengajak ke suatu tempat, memang kebiasaan Ummi kalo membutuhkan bantuan selalu menanyakan dan mendiskusikan ke anak-anaknya itu yang membuat kami segan sekaligus akrab dengan Ummi.



"Tidak Ummi, memang mau kemana?"



"Kita ke rumah Tante Rum yuk nanti sore, kebetulan sehabis Maghrib Ummi ada kajian di tempat dekatnya tante, mungkin hanya sampai jam setengah 8, Nisa ikut aja, enak kok kajiannya, Ustadzahnya masih muda lha. Sepulangnya nanti kita ketempat Tante Rum". Aku mengangguk mantap.



"Layla ikut Ummi" Si kecil merengek dibelakang. Dia memang selalu menjadi ekor kemana pun Ummi pergi.

===== *** =====

Rumah di pojok jalan ini sudah sangat berbeda dengan 2 tahun yang lalu, dulu masih mungil dengan pohon mangga di depan dan sawo kecik besar membuat rimbun dan sejuk terasa. Namun sekarang pohon mangga itu diganti dengan taman dihiasi gemericik air dari kolam ikan kecil yang tertata rapi, dan sawo kecik yang dulu gagah menjulang mengayomi penghuninya kini berubah menjadi garasi besar dengan 2 mobil terparkir didalamnya. Ya usaha Tante Rum semakin maju rupanya. Tante Rum memang sangat pintar berbisnis.



Dengan riang Layla berlari membuka pagar, aku dan Ummi hanya mengikutinya dibelakang sambil geleng-geleng. Layla selalu senang diajak ke Tante Rum karena ada Mitha yang punya mainan banyak, Mitha memang seusia Layla. Dan kali ini pun Layla langsung lari mencari Mitha dan keduanya sudah asyik bercengkrama ramai, sementara dari dalam Tante Rum menyambut kami bahagia, dia mencium pipi kanan kiriku.



"Nisa, lama nggak pernah main kesini."



Dan kami pun diseret masuk kedalam. Pasti tante punya berita menarik, biasanya kalo menyambut kedatangan kami dengan antusias, tante pasti punya kabar yang menarik.



"Tik kata BuLik Leha sama MbakYu Dar, Roni mau dimasukkan ke RSJ, apa nggak sadis itu?"



Belum sampai pantat Ummi menyentuh sofa ruang tengah Tante Rum, Ummi langsung terlonjak. "Masya Allah." Aku pun ikut terbelalak, Om Ron yang walaupun mentalnya terbelakang, namun dia masih sehat, masih waras, membaca dia masih lancar, dan yang terpenting dia tidak pernah merugikan orang lain, tidak pernah membuat ketakutan orang lain, bahkan anak-anak sekitarnya menyenanginya, karena dia suka membacakan cerita-cerita Nabi ke mereka, lalu kalo disuruh ke RSJ, bagaimana perasaannya. Aku terhenyak, memang dari dulu Ibu nya Om Ron begitu tidak bisa menerima, bahwa dia mempunyai anak cacat, dulu kata Ummi, Eyang Leha sempat mau memasukkan Om Ron ke panti asuhan saat diketahui anak itu perkembangannya lambat, untunglah saat itu Eyang Buyut masih ada, jadi kejadian itu ada yang mencegahkan, namun sekarang?



"Astagifirullah aladzim, bagaimana ceritanya Rum, kok Dar bisa seperti itu."



"Kemaren pas arisan keluarga Mbakyu nggak datang, masalah itu dibahas ramai Mbak, mereka merasa malu, mereka atas nama keluarga besar kita Sosrodiningrat merasa terhina karena mempunyai anak yang agak miring kata mereka, anak yang idiot, sebenarnya banyak yang protes dengan keputusan itu Mbakyu, tapi Mbakyu tau sendiri kan gimana Bulik itu kalo sudah ada keinginan, pasti nggak bisa disanggah."



"Astagfirullah aladzim, kita harus mencegahnya Rum, dia itu kan sodara kita, harusnya orang kayak Ron itu harus disayangi, bukan di benci, dia itu anak yang baik."



"Iya Mbak, saya setuju dengan itu."



Tante Rum dengan Ummi saling berpandangan, dan sedetik kemudian mereka menatapku bersamaan. Ditatap seperti itu aku merasa tersudut. Dan akhirnya bersuara.



"Ummi, Tante, kok menatap Nisa?, Nisa juga nggak setuju dengan itu, dan Nisa tau pasti Ummi dan tante akan mendelegasikan Nisa untuk ngomong ama Eyang Leha dan Bulik Dar."



Mereka berdua tertawa bersamaan, dan bersamaan menganggukkan kepala, aku memang dapat menangkap dari sorot mata mereka. Memang dalam keluarga besar kami Sosrodiningrat, Eyang Leha dan Bulik Dar adalah orang yang paling keras, orang yang nggak bisa dibantah kehendaknya. Kalo sudah ngomong A pasti harus A, dan banyak yang bilang mereka Ibu dan Anak yang keras kepala. Tapi aku sendiri juga nggak tahu Eyang Leha sama Bulik Dar sangat sayang sama aku, itu yang sering diucapkan Ummi. Mereka bilang mungkin karena pembawaanku yang kalem, dan yang nggak pernah membantah. Sehingga dua batu karang itu bisa luluh padaku, Wallahualam.



"Nisa, kita akan berusaha mencegah itu, namun kamu pun membantu sepenuhnya, dan kamu merupakan kunci untuk melunakkan hati Bulik sama Mbakyu Dar."



Aku terdiam sejenak, kupandangi Ummi dan Tante Rum, mereka pun tampak menerawang jauh ke halaman samping. Aku tau ada tugas berat yang kami emban esok harinya.



Suara alunan jangkrik berkolaborasi dengan kodok di samping rumah yang kebetulan lapangan bola milik kampung yang telah berubah menjadi rawa-rawa besar, membuat mereka para kodok dan jangkrik kerasan berpesta disana. Suasana seperti itu memang kadang melenakan.



Dentangan Jam 11 kali membawa kantuk kami ke tempat tidur, ya hari itu Aku, Ummi sama dek Layla sengaja menginap di rumah Tante Rum karena hujan deras turun tak henti-hentinya. Masalah tentang Om Ron sementara di pending di mulut namun dipikiran menjadi beban, sehingga terlena terbawa mimpi panjang.

===== *** =====

Ummi hari ini memasak Kare ayam kesukaanku, dan memang aku tidak bisa mungkir bahwa masakan Ummi sangat pantas diacungi jempol. Siip Deh. Racikan tangannya mampu melahirkan masakan yang nggak ingin lepas dari lidah, dengan nasi hangat, kare ayam sama sambel goreng hati kami lahap sarapan, mata Abi pun tampak bercahaya. Abi memang paling kerasan dengan masakan Ummi, hingga selalu beliau sempatkan makan dirumah saat istirahat kantor. Tapi tiba- tiba cengkerama kami di meja makan terhenti sejenak saat tiba-tiba suara pintu diketuk keras, Ummi bergegas membukanya.



"Astagfirullah Aladzim. Roni kenapa badanmu bengap." Ummi berkata setengah berteriak, kami segera lari kearah ruang depan. Kami terperanjat tampak Om Ron dengan muka bengap dan wajah ketakutan duduk lemas di sofa tamu, sekejap diamati mata Om Ron mengalir kristal bening.



"Astagfirullah." kami bergumam bersamaan.



"Nisa buatkan teh hangat." Ummi berkata sambil tangannya menenangkan Om Ron, kelihatannya sesuatu telah terjadi, dia tampak shok.



"Pelan-pelan Ron, ceritakan ke Mbakyu."



Tiba-tiba tangis Om Ron meledak.



"Ibu sama Mbak Dar, mereka mengurungku dikamar, katanya Ron mau dimasukkan rumah sakit orang gila, kata mereka Ron sudah gila, Ron tidak mau, Ron membantah, lalu mereka memukul Ron." Om Ron menangis lagi sesenggukan, kusodorkan teh hangatnya.



"Innalillahi."



Suara pagar berderit, tampak beberapa orang masuk dengan tergesa-gesa.



"Ron. Roni bocah gila dimana kamu?" Lengkingan suara yang sangat kami kenal, suara Eyang Leha. Om Roni berdiri bersembunyi dibalik punggung Abi. Jelas dimukanya tampak bias ketakutan. Ibu maju mencoba menenangkan Eyang. Sementara Layla memelukku, dia rupanya ketakutan. Muka Eyang sama Bulik Dar merah menandakan kemarahan yang sangat.



"Sudah Tik jangan halangi kami, Ron harus dimasukkan ke RSJ, kalo tidak dia akan menjadi malu keluarga saja."



"Sabar dik Dar, nyebut dik, nyebut." Abi ikut menenangkan, tapi hal itu hanyalah sia-sia Eyang tetep bersikukuh, saat Abi dan Ummi terus menenangkan, Om Ron bersama ketakutannya semakin beringsut ke sudut ruang, dan sekejap kemudian dia lari keluar rumah. Sejenak kami terperanjat, Abi langsung mengejarnya.



"Ron!!!!!"



Ternyata dia berlari jauh membawa ketakutannya.



"Bulik lihat, dia tertekan. Kasihan Roni, tidak sepantasnya kalian berbuat seperti itu." Ummi berkata dengan penuh tekanan, suaranya sampai bergetar parau.



"Iya Eyang, kami nggak setuju kalo Om Ron dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Om Ron butuh kasih sayang keluarganya, itu yang dibutuhkan sekarang, bukannya malah dikurung atau dimasukkan ke rumah sakit, itu malah akan semakin membuat dia sakit."



Eyang Leha dan Bulik Dar menatapku kaget, mereka tidak menyangka aku akan berkata begitu karena mereka melihat aku adalah anak yang paling menurut di keluarga.



"Nisa, kamu mahasiswa Psikologi, harusnya kamu tau bahwa Ron itu sakit!!! Ron itu gila." Suara Bulik Dar meninggi, aku mundur beberapa jengkal, tergidik. Abi memegang pundakku, menenangkan. Ummi menggeleng padaku, menandakan aku tidak usah meneruskan. Aku mengangguk dan hanya diam. Tiba-tiba Layla menangis keras, dan menjerit.



"Eyang Leha sama Bulik Dar jahat seperti setan, Om Ron orang yang baik, Om Ron sangat menyayangi kami, kami pun sayang ke Om Ron. Layla benci sama kalian. Bi kita cari Om Ron!"



Semua memandang Layla. Muka Eyang, sama Bulik semakin memerah.



"Sudahlah, dia sudah pergi, biarkan saja dia minggat. Assalamu'alaikum, kami pamit."



Nada suara Eyang Leha sedikit melemah seiring tubuh mereka meninggalkan pelataran rumah kami. Ummi dan Abi hanya menatapnya perih.

===== *** =====

Ujian telah selesai, liburan akhir semester menjelang, lega, kuambil nafas panjang dan kuhempaskan berlahan, plong. Segera aku beranjak ke wartel samping tempat kost ku, kupencet nomor rumah dan mengabarkan kalo aku akan pulang, Layla yang menerima pertama kali senang menyambutnya. Maklum aku sudah dua bulan tidak pulang, Ummi menyahutnya dibelakang.



"Nis, jangan lupa pesanan Om Ron, buku Iqro' jilid 1-6 tiga bendhel, Qur'an kecil 5 buah."



"Ya Ummi."



Aku menutup telepon dengan hati riang, liburan kali ini pasti lebih bermakna karena aku bisa Bantu Om Ron di Mushala samping rumah, mengajar anak-anak TPA mengaji. Mushala itu dibangun Abi untuk memberi kesibukan pada Om Ron setelah 2 tahun dia menempuh Ilmu di pondok pesantren di Solo. Dulu setelah pelariannya karena tertekan oleh Eyang Leha dan Bulik Dar kami bisa menemukannya dan meyakinkannya untuk belajar di pesantren. Alhamdullillah sekarang Om Ron mempunyai 20 murid.



Aku tersenyum bahagia saat menenteng Iqro' pesanannya yang aku beli kemaren, kubayangkan asyiknya menjadi guru dan menjadi assisten Om Ron dua minggu.

Gadis Pujaan

8 Januari 1995
Ry, seperti biasa sore ini aku memandang ke luar jendela, nunggu someone. Seorang gadis yang tak kuketahui nama dan rumahnya dimana, tapi selalu kulihat setiap pagi dan sore berjalan di depan rumahku. Kamu tahu kan Ry, kalau aku suka sama "gadis pujaanku" sejak 2 tahun yang lalu. Ia membawa pesona yang lain dari yang lain. Wajahnya yang baby-face, hidungnya yang mancung, matanya yang bulat, bibirnya yang mungil dan rambutnya yang panjang ditambah kulitnya yang mulus, maka lengkaplah sudah ia menjadi "gadis pujaanku", Ry!

9 Januari 1995
Hari ini perasaanku kacau, Ry. Setelah melihat "gadis pujaanku" bergandengan tangan dengan cowok lain. Kamu bisa membayangkan dong, bagaimana perasaanku, Ry? Aku tidak rela melihat mereka berdua. "Si gadis pujaanku" digandengnya dengan mesra. Ingin rasanya memisahkan mereka, tapi apa dayaku? Aku bukan siapa-siapanya, Ry. Gimana, dong???

10 Januari 1995
Ry, setelah kejadian kemarin aku jadi nggak punya semangat hidup. Makan nggak enak, tidur tak nyenyak dan belajar pun tak mengerti. Pokoknya hari ini hari beteeee banget!

19 Februari 1995
Maaf ya Ry, udah sebulan nggak ketemu. Biasa lagi males, nich! Tapi kamu tetep jadi sohib terbaikku kok! Tau nggak Ry, ternyata "si gadis pujaanku" udah pegat ama cowoknya. Aku tau tahu itu waktu kemarin di Mall CINERE, mereka lagi marahan. Wuiih, aku jadi seneng deh, berarti masih ada kesempatan, dong! Pokoknya selama janur kuning belum terpasang, masih ada kesempatan lah!

20 Februari 1995
Ry, hari ini ada berita yang menggemparkan seluruh isi dunia, lho. (nggak juga sich!). Itu tuh, "si gadis puajaanku" potong rambut, bondol lagi! Tapi nggak apalah dia tetep cuantik kok, nggak kalah dech ama yang namanya Demi Moore. Dia jadi tambah imut, lho. Wah, coba kalau kamu punya mata Ry, kamu bakalan jadi sainganku dech! Percaya nggak??

25 April 1995
Nggak kerasa ya Ry, waktu berlalu dengan cepat. Aku udah mau ujian semester genap. Mau naik kelas III. Eh, ngomong-ngomong dia juga lagi pengen EBTANAS, nich! Kira-kira "si gadis pujaanku" masuk SMU mana ya? Masuk ke SMU-ku, nggak? Udah ah, jangan mikirin dia mulu kapan belajarnya, donk! N'tar nilainya jelek, dech. Nggak mauuuu...

13 Juli 1995
Eh Ry, sekarang aku udah kelas III SMU, nich! Udah gede yah, walau kadang-kadang aku masih merasa seperti anak kecil. Tapi hari ini aku lagi seneng banget soalnya nilai raportku lumayan bagus, rangking 3, boo!! Siiplah, koleksi Tamiya-ku nambah satu, dech. (hadiah dari bokap). Eh Ry, "si gadis pujaanku" ternyata masuk SMU favorit lho, SMU 999. Wow, nggak sembarangan orang tuh yang bisa masuk ke SMU itu. Ternyata "gadis pujaanku" pinter juga, yah! (Jadi bangga, nich!).

14 Juli 1995
Hari ini ada pemandangan aneh lho, Ry. "si gadis pujaanku" lagi MOS, deh! Tau kan MOS? Itu lho, Masa Orientasi Siswa. Soalnya rambutnya yang bagus itu diiket sembilan, terus bawa-bawa kardus Indomie pula dipunggungnya (kaya pemulung aja, ya!). Tapi "si gadis pujaanku" itu tetep aja cuaantik! Pokoknya didandanin seperti apapun, si gadis tetep aja cantik bagiku! (bener, lho!!).

19 Juli 1995
Hari ini aku dibikin malu sekelas, Ry. Dasar si doer Slamet, dia koar-koar ke seluruh isi kelas kalo aku lagi suka sama seorang gadis. Aku yang terkenal dingin ama cewek ini, jadi ketauan deh belangnya. Memang salahku juga sih, curhat di belakang buku matek's (habis lagi bete sih!). Terus dibaca deh, ama si doer Slamet. Tapi yang membuatku lebih malu lagi, itu ulahnya si Tejo cs. Mereka berteriak " Woro-woro! Ada kabar gembira lho, Temen kita yang satu ini udah normal kembali, lho!". Dasar gila!

21 Juli 1995
Surprise!! Hari ini "si gadis pujaanku" berangkat ke sekolah dengan penutup kepala alias kerudung. Aduh sayang deh, rambutnya yang lebat dan hitam itu tertutup oleh sehelai kain. Tapi biarlah, dia tetep cantik bagiku dengan tubuhnya yang langsing dan kulit wajahnya yang putih itu, Ry. Nggak apa-apa dong, Ry!

22 November 1995
Dari hari ke hari aku nambah bingung lho, Ry! "Si gadis pujaanku" banyak berubah. What's happened with my girl? Awalnya dia potong rambut terus pake kerudung dan sekarang dia pakai jubah (gamis), Ry! Coba bayangkan, tubuhnya yang langsing itu tidak terlihat lagi. Tapi ada yang aneh deh. Apanya yah? Oh iya, dia nambah anggun lho!

14 Maret 1996
Hari ini aku nekat ngikutin dia, Ry. Kebetulan hari ini kan hari Minggu, lagi libur sekolah. Tapi "si gadis pujaanku" seperti biasa dengan jubahnya yang dikenakannya itu, dia pergi entah kemana yang nantinya aku juga akan tau. Selama perjalanan aku berusaha agar nggak diketahui olehnya, hingga pada suatu tempat ia berhenti dan masuk ke dalam gedung. Ada acara apa, ya? Ternyata acara seminar. Setelah aku baca spanduk besar yang terpampang dengan judul "INDAHNYA ISLAM", aku jadi tertarik dengan acara tersebut, Ry. Akhirnya aku ikuti acara tersebut sampai habis, kemudian pada akhirnya aku merasakan ada suatu kalimat yang membuat aku terkesima yaitu ketika pembicara mengatakan "... Allah bukan hanya sebagai pencipta, melainkan Dia juga sebagai pengatur. Segala sesuatu diatur oleh-Nya, termasuk segala perbuatan kita. Dan Islam mempunyai semua aturan itu". Karena kalimat itulah aku merasa terpanggil untuk mengetahui lebih dalam lagi tentang agamaku sendiri. Tanpa terasa si gadis pun terlupakan olehku, Ry.

29 Oktober 1996
Ry, sudah tujuh bulan ini aku belajar tentang Islam. Mulai dengan membaca buku-buku tentang Islam, mendengar ceramah sampai mengikuti berbagai seminar. Seperti halnya pada hari ini, aku mengikuti sebuah seminar yang berjudul "Nidzon Istima'i fil Islam" (Sistem Pergaulan dalam Islam). Dari sini aku mulai mengetahui mengapa si gadis memakai jilbab (pakaian longgar yang menutupi tubuh tanpa potongan alias jubah), karena itu memang sudah menjadi kewajibannya, terus larangan berpacaran, kewajiban ghadul bashar (memelihara pandangan), dan masih banyak lagi. Dari seminar kali ini aku juga dapat kenalan baru, lho! Namanya Kak Faisal, orangnya baik dan banyak mengetahui tentang Islam. Kamu pasti akan suka dia deh, Ry!

8 Januari 1997
Ry, aku sudah tau segalanya. Aku harus melupakan "si gadis pujaanku". "Kalau memang jodoh nggak akan kemana", begitu kata kak Faisal. Dan aku jadi sadar bahwa hanya Allah dan Rasul-Nyalah cinta sejatiku. Mulai saat ini pun aku mulai belajar Islam dengan kak Faisal, Ry.

9 Februari 2001, Empat tahun kemudian...
Lama aku nggak punya catatan harian, Ry. Sekarang aku sudah dewasa, sudah kerja. Bukan lagi anak SMU ataupun anak kuliahan. Ry, kamu masih ingat kan dengan "si gadis pujaanku"? Sekarang aku sudah tau namanya, bahkan alamatnya. Namanya Safitri Azkiyah tertulis di atas kartu undangan dengan tinta emas bersama dengan namaku, Adhan Ramadhan, SE. Ya, kamu benar Ry! Dia akan menjadi istriku besok. Kalo jodoh memang tak kan kemana!

Untuk Adik-adik di Rumah


Waktu itu tahun 1987. Saya berkesempatan mewakili sekolah dalam Temu Diskusi Pelajar SLTA se Jakarta Bogor Tangerang dan Bekasi, untuk membahas masalah narkotika dan penanggulangannya.

Diskusi dibagi dalam beberapa kelompok. Tiap kelompok berisi sepuluh pelajar. Saya beruntung bisa berada dalam kelompok diskusi yang hebat. Rekan-rekan diskusi saya semua sangat periang, humoris tapi juga 'berisi.' Bukan hal aneh, sebab kebanyakan dari mereka peraih ranking I di sekolah masing-masing.

Setelah salat Dzuhur, kami makan siang. Paket nasi, lauk, sayur dan buah ditaruh dalam dus. Kami diminta makan siang bersama kelompok diskusi masing-masing. Saya melihat Toto (bukan nama sebenarnya) dari sbuah SMU di Jakarta Timur, ketua kelompok diskusi kami, tidak makan.

"Mengapa tidak makan, To? Kamu nggak lapar?"

Dia tersenyum. "Makasih."

"Kamu puasa, ya?' tebak saya.

Ia mengangguk.

"Hari Rabu begini?"

Ia mengangguk lagi. "Jatah saya dibawa pulang."

Semua asyik makan dan tak lagi mempedulikan Toto.

"Wah, saya kenyang nih, nasinya kebanyakan...," suara seorang teman lelaki kami.

"Ya, gue juga nggak habis nih!" timpal yang lain.

Sari dari SMA 1, yang duduk di samping saya juga tak menghabiskan makannya. Lalu tiba-tiba saya juga merasa sangat kenyang.

Selesai makan kami menaruh kardus sisa makanan di kolong meja masing-masing dan bersiap-siap mengikuti ceramah di ruang utama.

Karena notes saya ketinggalan, setengah berlari saya pun kembali ke ruang diskusi ditemani Sari.

Saya hampir tak percaya dengan apa yang kami lihat di ruang diskusi. Tak ada siapa pun. Hanya Toto yang sedang melongok meja kami masing-masing dan mengeluarkan kardus sisa makanan kami semua. Saya menatapnya tak mengerti. Dan sebelum saya bertanya, Toto tersenyum, setengah menunduk.

"Untuk adik-adik di rumah, ...mereka pasti gembira...."

Saya tak sanggup berkata sepatah pun. Sari menggigit bibirnya sendiri. Sesuatu yang pedih merembesi relung-relung batin kami. Hanya mata ini yang semakin berkaca-kaca.

Cahaya di Taman Langit Paris




Cahaya di Taman Langit Paris (Salli Syawaliaeni)


Florence, Italia. 4 November 1966
Malam ini, ketika semua orang sedang tertidur nyenyak dan sungai Arno meluap serta merta membanjiri seluruh bagian kota Florence yang kaya akan seni dan sejarah, ditutupi oleh lapisan air, lumpur dan minyak. Di beberapa bagian pusat kota paras air mencapai 9m1, di hari di mana tragedi kota Florence ini terjadi aku lahir ke dunia, di tengah hiruk-pikuk musibah yang menenggelamkan kota Florence kota kelahiran para seniman, dan kota favorit seniman seperti Giotto, Andrea del Catagna dan Donatello. Dan padre2 memberiku nama Maria della Robbia karena padre dan madre3 menginginkanku kelak seperti Bunda Maria yang mengabdikan diri pada Tuhan.

Florence, 15 Juli 1972
Hari ini aku, Maria della Robbina akan bersekolah! Hari ini aku akan masuk scuola elementare4, dan aku akan masuk asrama di Santa Maria Del Fiore. Sekolah itu bersebelahan dengan Gereja Santa Maria del Fiore, yang terkenal dengan kubah Brunelleschi, gereja itulah tempat padre mengabdikan diri sebagai seorang hamba Tuhan sekaligus sebagai misionaris. Madre dan padre memang seorang pemeluk agama Katolik Roma yang sangat fanatik, selain karena katolik Roma memang agama mayoritas di Italia yang mencapai 99%, hanya 0,5% yang memeluk Protestan, 0,25% menganut Yahudi dan sejumlah kecil yang menganut ortodoks Yunani.

Sejak kecil madre dan padre sudah menanamkan agama yang sangat kuat, karena itu setiap tahun kami selalu menyempatkan diri mengunjungi Vatikan atau Roma yang menjadi pusat agama Kristen terbesar yaitu katolik Roma. Selain itu kelak jika aku sudah besar madre dan padre akan menyarahkan kepada gereja sebagai biarawati yang akan menjadi bukti kesetiaan mereka pada Tuhan. Tapi aku sendiri tidak begitu mengerti, yang aku tahu hari ini aku akan sekolah dan aku senang sekali! Tapi ternyata di sekolahku ini aku mulai dengan perasaan kecewa, Sono Contrariatois5! Bukan karena aku masuk asrama putri tetapi karena di sekolahku ini banyak bernyanyi, Sonodisgustato6! Kupikir agamaku ini kurang kerjaan selain bernyanyi, non mi piace troppo7! Bukan karena aku tidak pandai menyanyi, tapi kupikir masih banyak yang berguna dari pada sekedar menyanyi!

Florence, 10 Agustus 1986
Akhirnya aku lulus sekolah, setelah 14 tahun aku berada di asrama, Kini aku diberi waktu 5 tahun untuk kuliah sebelum menjadi biarawati. Hati kecilku kadang bertanya, kenapa aku harus sekolah tinggi-tinggi untuk menjadi seorang biarawati. Tapi yang penting aku suka sekali belajar! Dan yang sama sekali tidak kusukai adalah menjadi seorang biarawati, tapi aku tidak bisa menolak. Keinginan madre dan padre karena aku mencintai mereka, aku tak mau mereka kecewa, walau menurutku banyak yang aneh dengan konsep trinitas? Dan hal aneh lainnya yang terdapat pada kitab Perjanjian Baru! Rencananya setelah mengikuti Laurea9 aku akan masuk Universitas Florence, yang menjadi tujuan bagi pelajar seluruh dunia karena fakultasnya yang termasyur dan termasuk universitas tertua dan paling terhormat di dunia. Sono felice10 ! Aku bekerja keras agar dapat menjadi seorang mahasiswi di Universitas Florence. Hari ini juga padre dan madre mengajakku ke Istana Keadilan dan Kota Vatikan di tepi sungai Tiber11 sebagai hadiah karena aku lulus sebagai terbaik, selain itu kata madre dan padre sebagai sarana mendekatkan diri pada Yesus sang anak Tuhan, sebelum aku jadi seorang biarawati!

Florence, 08 September 1986
Hari ini hasil kerja kerasku terlihat hasilnya! Aku lulus dan diterima di Universitas Florence dengan jurusan Filsafat, karena aku pikir, ini Bouno idea12! Aku suka filsafat. Filsafat mengajarkan kita untuk berpikir bijaksana, mendalam dan menukik dalam memahami dan memandang sesuatu hal. Filsafat sangat dibutuhkan, karena lebih menyandarkan pada akal budi manusia! Jadi orang yang mengerti filsafat adalah orang yang berakal dan berbudi!

Florence, 15 September 1986
Aasse…13 Universitas Florence selain klasik dan indah juga sangat luas, di sini benar-benar membuat orang semangat belajar! Dan kupikir di sini hanya untuk orang-orang terpilih! Mi piace…14

Florence, 25 Desember 1987
Hari natal ini ada yang istimewa selain misa ke Vatikan. Tidak ada tukar menukar hadiah, karena keluarga kami, Della Robbia15 termasuk keluarga yang masih memegang tradisi natal kuno yaitu dengan menyimpan pertukaran hadiah untuk pesta Epiphany yaitu pesta yang mengingatkan kembali akan hadiah yang dibawa oleh 3 orang Majus kepada bayi Yesus. Tapi bukan itu yang istimewa, yang istimewa adalah aku terpilih sebagai wakil pertukaran pelajar ke Paris, kota yang sudah lama ingin kukunjungi karena keindahannya terutama menara Eiffel dan Paris 17!

Florence, 26 Desember 1987
Hari yang kutunggu, karena hari ini aku akan pergi ke Paris, di hadapanku madre menangis melepaskan aku anak semata wayangnya sekolah di Perancis. Madre memang kadang berlebihan. “lo deteste quello,”16 kata madre sambil menangis. “Allegria, madre. Calma gente, stai bene.”17 aku berusaha menenangkan madre dan menghiburnya.
“non piangere. Ti amero!”18 kataku sambil berusaha tersenyum. Madre, aku juga berat jauh dari madre dan padre.

Paris, 11 Januari 1988
Tak terasa sudah setengah bulan aku di kota Mode ini dan semuanya berjalan menyenangkan tampaknya. Paris sangat ramah padaku walau aku belum menemukan banyak teman, karena aku tidak suka dengan cara bergaul anak muda di sini, yang menurutku terlalu berlebihan. Mungkin aku yang terlalu kuno, tapi kupikir belajar lebih berguna ketimbang pesta pora yang tidak jelas. Aku melamun, kupikir aku salah masuk ruangan. Karena yang aku lihat adalah orang-orang yang berwajah Arab, Asia dan Negro. Tadinya aku akan keluar untuk mengikuti kelas Aristotelian, tapi di sebelahku duduk seorang keturunan Arab dan dia Carino. Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku tertarik pada seorang pria karena kulihat raut wajahnya yang tenang dan ada pancaran cahaya yang menyejukan. Aku pun tersenyum dan menyapanya.

“Bonsoir. Comment vous appelez-vous?”19 tanyaku, dia berbalik dan tersenyum, “Je m’appelle Ibrahim.”20
Aku mengulurkan tangan seraya berkata, “Je m’appelle Maria.”21 Tapi dia tidak menjabat tanganku melainkan merapatkan kedua tangannya dan ditariknya ke dada. Aku heran dan sedikit tersinggung. Dari Ibrahim juga aku tahu kalo ini kelas agama Islam, kelas para teroris begitu kata padre, tapi kok sepertinya Ibrahim tidak mungkin jadi teroris, begitu juga yang lainnya tampaknya mereka ramah dan cerdas.

Paris, 12 Januari 1988
Di perpustakaan aku bertemu Ibrahim. Entah mengapa aku jadi mendekatinya aku ingin menanyakan apa itu buku yang tebal seperti Injil tapi tulisannya Arab. Dan kata Ibrahim itu adalah Al-Quran kitab suci orang Islam. Moyen ’union Islam!22 lagi-lagi Ibrahim menjaga jarak denganku. Kenapa sih orang Islam aneh-aneh?

Paris, 22 Januari 1988
Semenjak aku masuk kelas agama Islam aku jadi tak pernah absen untuk mengikuti kelas itu karena aku sangat penasaran pada tingkah aneh mereka. Bukan hanya Ibrahim, tapi juga Fatimah yang memakai kain suster di kepalanya. Waktu aku tanya katanya itu jilbab, dari Fatimah aku menjadi tahu bahwa setiap wanita Islam yang sudah haid wajib menutup seluruh tubuh dan kepalanya dengan jilbab dan pakaian takwa, kecuali telapak tangan dan wajahnya. Aku tidak mengerti mengapa Islam menyuruh umatnya yang wanita jadi tidak menarik seperti Fatimah, walau sebenarnya dia cantik sekali dengan wajah Arab-Perancis-nya! Aneh, kupikir aku harus menyelidiki ini!

Paris, 23 November 1988
Aku di sini, di Paris 17, salah satu pusat wisata di Paris dan aku berdiri di sebelah gereja tua yang sangat bersejarah, gereja Sacre coer, dan dari bukit ini akan tampak jelas seluruh panorama kota Paris semuanya jelas dan dipenuhi lampu-lampu juga cahaya kelap-kelip kunang-kunang industri, selain itu juga dari sini terlihat aliran sungai Siene yang membelah kota Paris, mengingatkanku pada madre dan padre di Florence, mi macherai…23 akh madre dan padre sono cosi confuso24. Setelah hari itu di mana aku bertanya pada Fatimah, aku semakin tertarik pada Islam. Bersama Fatimah aku sering mengikuti kajian agama Islam di Islamic Center yang rutin kuikuti 2 minggu sekali. Yang membuatku tersentuh adalah keramahan dan kehangatan mereka, sekalipun mereka tahu aku adalah seorang Katolik Roma. Semua pertanyaanku mereka jawab dengan jelas dan sederhana, agar aku mudah mencernanya. Fatimah dan Sarah (adik Ibrahim) mengajarkanku membaca Al-Qur’an, dan dari semua itulah aku mulai menemukan segala jawaban atas pertanyaanku, dan Islam itu sangat sempurna, karena mengatur segala kehidupan manusia sampai akhir jaman, dari hal yang terkecil sampai yang besar. Aku tersentuh oleh Al-Qur’an terutama ayat yang mengatakan: Dzalikal kitaabu laa raaiba fiihi (tidak ada keraguan di dalamnya (Al-Quran). Je suis d’accord!25 dan banyak konsep-konsep yang logis, yang dijelaskan di Al-Qur’an. Dan ternyata aku salah karena ternyata Islam tidak aneh, tapi dulu otak kulah yang tak mencapainya, Islam agama yang pintar, agama orang-orang yang punya pikiran cerdas. Ternyata dalam Islam ada adab dalam bergaul antara laki-laki dan perempuan karena ada alasan kuatnya. Islam agama yang logis, berarah pada pencegahan! Islam terlalu suci, agung dan sempurna. Sarah juga membacakan arti dari surat Maryam ayat 16-40, tentang kisah Maryam sebenarnya dan juga tentang pengangkatan Isa, Sarah bilang yang penting bukan cuma bacanya, tapi pada pemahaman dan pengalamannya!

Sekarang aku merasa begitu bodoh, karena pernah mengganggap Nabi Isa itu Yesus, masa kalo emang bener Tuhan kok tidak dihormati malah disalib? Kok kitab Perjanjian Baru itu diubah 25 tahun sekali mengikuti zaman, tidak seperti Al-Quran yang sepanjang masa! Kitab suci yang mengikuti manusia?

Paris, 25 Desember 1988
Hari ini aku resmi menjadi seorang muslimah. Pagi tadi aku telah mengucapkan syahadat di masjid Islamic Center, di hadapan imam Abu-i-Abbas al-Saffah aku seperti menandatangani sebuah kontrak untuk masuk Islam secara kaffah dan mengikuti segala ketentuannya. Namaku-pun berubah menjadi Siti Maryam, agar kelak aku dapat seperti Siti Maryam. Dan mulai hari ini juga aku menutup semua auratku. Seperti firman Allah dalam surat An-Nur: 31. Ibrahim, Sarah, Fatimah, Yasid, Sulaiman, Zainab, Rabi’ah dan semua teman-teman di Islamic Center juga teman di kelas agama Islam mengucapkan selamat bahkan mereka memberiku hadiah seperti jilbab.

Alhamdulillah, akhirnya aku menjadi bagian dari mereka. Sejenak pikiranku melayang pada madre dan padre mungkin mereka sedang merayakan natal, tadi malam mereka menelponku mengucapkan selamat natal, aku diam saja. Mungkin apabila mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku, mungkin mereka akan membunuhku, tapi aku hars bisa menghadapi semua yang terjadi, bukankah Islam mengajarkan untuk tetap berbakti pada kedua orang tua sekalipun berbeda agama. Bismillah.. “Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (Al-Hajj: 40).

Paris, 08 Februari 1990
Sudah 3 tahun aku tidak pulang ke Florence. Ada banyak alasan yang membuatku tidak pulang. Selain jadwal kuliah yang padat, juga karena di sana aku akan sulit melaksanakan ibadah. Tapi kali ini tidak ada alasan untuk tidak pulang, selain karena aku akan wisuda, aku juga harus memberi tahukan rencana pernikahanku dengan Ibrahim sekaligus memberi tahukan pada mereka bahwa aku sudah memeluk agama Islam.

Akhir-akhir ini aku juga merasakan ada sesuatu yang selalu mengintaiku, maka sebelum pergi kutinggalkan sepucuk surat untuk Ibrahim yang kuserahkan melalui Sarah, adiknya. Aku pasrahkan semua yang akan terjadi kepada Allah SWT, karena Allah-lah sebaik-baiknya pelindung (Al-Hajj: 78). Je n’aipa le temps26, aku harus cepat pulang!

Florence, 09 Februari 1990
Aku berjalan di Ponte Vecchio-“si jembatan tua”—yang melintas di atas sungai Arno. Senang rasanya kembali ke sini. Berjalan lagi di tepi sungai Arno seperti aku kecil bersama madre dan padre aku sering jalan-jalan di sini, ternyata tidak ada berubah. Di sini toko-toko yang elok dan suasana yang aristrokratis. Tapi aku sudah berubah. Maafkan aku madre dan padre telah mengecewakan kalian. Apapun resikonya akan kuterima. Sesampainya di rumah bukan senyum manis yang biasa menghiasi bibir madre yang menyambutku, tapi raut wajah marah padre yang belum pernah kulihat sebelumnya, serta air mata kekecewaan madre. Mereka memandangku dari ujung jilbab hingga ujung jubahku. Ternyata mereka sudah lama mencium gelagatku masuk Islam, karena sudah lama seorang misionaris di Paris memberitahu mereka, dan mengintaiku. Aku mengerti mereka kecewa, tapi seharusnya mereka dengar dulu penjelasanku, dan sedikit membuka mata untuk mengenal Islam. Bukan malah menyeretku dengan kasar dan membuka kerudungku dengan paksa, bukan hanya itu, gamisku pun mereka sobekkan.

Mengapa mereka sekejam ini pada anaknya sendiri, darah daging mereka, madre hanya menangis, sedangkan padre dan beberapa orang teman padre di persekutuan memotong rambutku sampai botak, aku hanya bisa berzikir, aku yakin Allah akan menolongku! Seraya melafazkan “hasbunallahu wa ni’mal wakiil.” (cukuplah Allah sebagai penolong kami dan dia sebaik-baiknya pelindung). Aku ingat cerita tentang nabi Ibrahim yang diceritakan oleh Monsieur Hisham di kelas agama Islam. Nabi Ibrahim akan dilemparkan ke dalam api dan menjadi dinginlah api itu setelah nabi Ibrahim melafazkan doa itu. Maka selamatlah Nabi Ibrahim. Allahu Akbar!

Florence, 11 FEbruari 1990
Aku berada di gereja St. Maria Fiore. Di hadapanku ada pastur-pastur, para biarawati dan para jemaat. Tampaknya persembahan ku mereka percepat, mereka akan menjadikanku biarawati, tapi takkan kubiarkan ini terjadi, aku tidak akan menjual aqidahku walau demi nyawaku. Aku sudah mencintai Allah. Saat itu aku terus membaca dengan lantang tentang surat At-Taubah ayat 40 “Jangan bersedih. Sungguh Allah bersama kita.”28 Kata parde sambil menendangku, subhanallah…dan tanpa dikomando mulutku mengeluarkan kata Allahu Akbar. “Smettila didir cazzate, Maria. Non essere pirla.”29 Bentak padre. Walau begitu aku tidak merasa gentar, meskipun kemudian padre bilang Ti uccido30, karena katanya aku sudah berkhianat pada Tuhan, gereja, orang tua, dan menyebabkan aib maka aku harus dibunuh.

Tak lama kemudian tendangan, pukulan, cacian bahkan ludah semua mengarah padaku. Kurasakan sekujur tubuhku ngilu, darah segar mengalir dari mulutku, kepalaku sakit karena beberapa kali mereka membenturkan kepalaku ke lantai, aku hanya bisa pasrah pada Allah , berdzikir dan berdoa “Allahumma innii a’udzubika min jaladil faajir wa’ajzits tsiqoh.” ( Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari kekuatan orang fasiq dan kelemahan orang yang dapat dipercaya). Tiba-tiba seseorang menembakkan peluru sambil berteriak lantang “Vai in kasino.”31 dan tepat mendarat di punggungku. Allahu Akbar! Asshadu allaillahaillallah waashaduanna Muhammadaa Rasulullah, insya Allah hari ini aku pergi dengan indah karena dalam keadaan istikomah. “Allahummah dinii wa saddidnii.” (Ya Allah, berikanlah petunjuk kepadaku dan berikanlah kepadaku sikap istikomah dan ketepatan dalam segala urusan). Tak terasa air mataku mengalir dan senyumku mengembang mengiringi kepergianku. Allah …aku datang untuk bertemu denganmu.
***
Paris, 08 Fevrier321990

Ketika Cinta Harus Usai

Ketika Cinta Harus Usai (artikel Bunga Rampai)

Aku memandang lekat tubuh yang tengah tergolek tidur di sampingku. Tegap dan tampan, tak bercacat. Tubuh yang sangat kukenal, yang telah berada disisiku selama 10 tahun terakhir hidupku. Tubuh seorang yang sangat kuscintai, yang menjadi ayah dari anak-anakku.

Benakku menembus waktu, mengingat masa ketika kuliah dulu. Siapa yang tak pernah mendengar nama Yudhis. Mahasiswa kedokteran dari universitas negeri, ketua senat, aktivis Rohis, kader Lembaga Dakwah Kampus, dan seabrek jabatan lainnya.

Siapa pula yang tak kenal dengannya di kampus. Yudhis sering muncul di depan publik. Kepandaiannya berorasi mengagumkan. Menggugah semangat dan memukau yang mendengarnya.

Aku merasa amat mengenal Yudhis. Kami satu angkatan dan sering bekerja sama dalam banyak kegiatan dan kepanitiaan. Beberapa kali Yudhis menjadi ketua dan aku sebagai sekretaris. Sudah menjadi rahasia umum kalau Yudhis banyak penggemarnya. Fans-nya berasal dari beragam kalangan. Dari cewek gaul sampai aktivis, satu angakatn, hingga adik kelas, sefakultas maupun tidak. Yudhis punya kharisma yang luar biasa. Tutur katanya lembut dan sopan, wajahnya putih bersinar. Nilai plus yang lain adalah IP-nya tetap tingi walau aktivitasnya bejibun.

Menjalani banyak kegiatan bersama dan interaksi berfrekuensi tinggi diantara kami berdua, diam-diam menjadikan aku sebagai salah satu yang berada diantara jajaran para penggemar gelapnya. Simpati yang mulai berkembang dari benih itu kukubur ke sedalam-dalamnya hatiku. Biar ia terpendam di sana dan tak ada yang tahu.

Aku dan Yudhis, kami sama-sama tahu, tak ada kata pacaran dalam kosa kata kami. Apalagi kami berada dalam satu wadah pembinaan. Sekecil apa pun "rasa" yang sempat menyeruak, sesegera mungkin aku enyahkan.

Kadangkala sulit bagiku untuk mengendalikan gejolak hati. Berada pada masa usia yang telah cukup untuk mengenal kata "cinta". Berada pada masa di mana di dunia yang sama masyarakat telah mafhum dengan hubungan cinta di kalangan mahasiswa.

Tidak pernah terlintas sedikitpun aku akan pacaran. Sejak kecil ayah telah menanamkan pendidikan yang keras dan benar. Memproteksi anak-anak perempuannya dari segala kemungkinan fitnah.

Tapi hati ini. Uhh, tak mungkin aku membohongi diri sendiri bahwa aku menyukai Yudhis. Yudhis perhatian padaku? Ah,masa iya? Kutepuk pipiku untuk menyadarkan diri dari keterlenaan sesaat. Ya, Yudhis memang perhatian padaku, tapi juga perhatian ke yang lainnya. Seorang pemimpin dituntut untuk perhatian kepada anak buahnya. Tidak aneh kalau dia sering menghubungiku untuk membicarakan berbagai masalah dalam kegiatan kami.

Aku berada di balik lemari sekretariat, sibuk membereskan file-file Forum Studi. Kala itu sekretariat sepi, hanya ada aku seorang. Tiba-tiba terdengar percakapan dari balik lemari. Aku tak bisa melihat siapa mereka. Mereka pun tak menyadari ada sepasang telinga yang berada di balik lemari.

"Nur, kamu tahu nggak? Kak Yudhis perhatian banget ke aku. Aku nggak terlihat di rapat sekali saja, dia langsung menelepon aku!" seru suara pertama.

"Wah, kamu beruntung banget Mel. Kak Yudhis kan cakep, pinter, kaya lagi. Lumayanlah, biar Kijang tapi keluaran terbaru loh." Suara ke dua menimpali.

"Bagiku dia perfect banget. Kamu lihat sendiri kan tadi bagaimana dia memandangku. Terus senyumnya. Manis banget bo!"

"Memang kalau aku perhatiin, Kak Yudhis ada feeling sama kamu. Tapi saingannya banyak Mel. Tau kan siapa aja yang naksir dia. Putri, Heni, Sinta. Belum lagi kakak-kakak angkatan."

"Masa bodoh sama mereka. Yang penting Kak Yudhis suka sama aku." Terselip nada GR dari suaranya.

Bukannya aku bermaksud menguping, tapi dialog itu tersimak dengan sendirinya. Dari suaranya aku bisa mengenali mereka. Adik tingkat, 3 angkatan di bawahku. Rasanya tak salah juga kalau ia merasa GR. Kadang Yudhis memang terlalu tebar pesona. Berulang kali kudengar para ikhwan menasehatinya tentang masalah ini. Akhirnya Yudhis menyadari bahwa kharismanya telah menyebabkan banyak hati yang jatuh bergelimpangan. Dan ia mulai membangun jarak.


Kini tubuh laki-laki yang berstatus suamiku itu bergerak. Menggeliat perlahan. Lalu tetap mendengkur halus. Kupandangi wajahnya. Hidung mancungnya menurun kepada kedua buah cinta kami, Ghazali dan Sabila. Kata banyak orang, Ghazali adalah fotocopy-an dari ayahnya.

Aku perhatikan bibir suamiku yang berwarna merah. Agak tak lazim memang seorang laki-laki berbibir merah. Masih kuingat saat bibir itu mengucap janji setia. Mitsaqan ghalizha, sebuah perjanjian yang amat tegung dalam pandangan Allah. Betapa mantap ia berucap dalam ijab kabul kami. Mengingatnya menyeruakkan rasa haru. Membuat tetes kecil bergulir di kedua pipiku.


*****


Sore itu aku dan ayah ibuku sedang mengobrol di teras belakang sambil menyamil kue buatan ibu.

"Nduk, sekarang apa rencanamu selanjutnya?" Ayah tetap saja memanggilku dengan 'Nduk', panggilan terhadap anak perempuan dalam bahasa Jawa. "PTTmu sudah selesai. Kamu mau pilih kuliah lagi ambil spesialis atau mau nikah?"

Dahiku mengernyit. Nikah? "Nikah Yah? Mau nikah sama siapa? Nggak ada calon nih!"

"Masih ingat Bram, putranya Om dan Tante Rono? Dulu waktu kecil sering main sama kamu."

Keluarga Ronodipuro, masih priyayi dan punya bisnis besar. Keluarga mereka memang bersahabat dengan keluargaku. Kuingat pula Bram kecil yang sering merebut dan merusakkan mainanku. Aku menganguk-angguk tanda ingat.

"Sekarang Bram sudah jadi Branch Manager di perusahaan papanya. Dia juga punya bisnis otomotif. Bengkel dan tempat modifikasi. Ayah kemarin ke sana. Lumayan besar, pelanggannya juga banyak sepertinya."

"Tante Rono sering ngobrol-ngobrol sama ibu. Dia ingin mencarikan istri untuk Bram. Katanya sudah cari kemana-mana nggak ada yang cocok. Eh setelah ketemu kamu beberapa kali dan ngobrol sama kamu seperti kemarin itu, dia bilang pilihannya jatuh ke kamu Nduk." Ibu menjelaskan sambil menuangkan the dari teko ke dalam cangkir ayah yang sudah kosong. "Tante Rono itu seneng lho sama kamu. Katanya kamu cocok jadi istri Bram."

"Oooo.begitu," ujarku.

"Bagaimana Nduk?" tanya ayah.

"Bagaimana apanya Yah?" tanyaku kembali.

"Kamu mau nggak?"

"Ihhhh Ayah. Nggak bisa dijawab sekarang dong! Harus dipikir-pikir, harus istikharah. Paling tidak ketemu dulu. Belum tentu Bram juga langsung mau kan Yah."

Akhirnya tibalah saat pertemuan itu. Om Rono, Tante Rono, dan Bram datang ke rumah kami tepat pukul tujuh malam. Setelah sedikit basa-basi di ruang tamu, kami lalu berbincang di meja makan, berusaha mengakrabkan antara kedua keluarga.

Bram kini tidak terlalu banyak berbeda dengan Bram kecil. Ketampanan yang telah terlihat di masa kecil kini makin menunjukkan kesempurnaannya. Penampilannya perlente dengan pakaian dari merek terkenal. Tercium pula aroma wangi yang berasal dari tubuhnya. Alamak, gumamku dalam hati, aku saja tak pernah berparfum, kecuali jika mau sholat.

Selama perbincangan itu aku sudah merasa tidak sreg. Entah kenapa. Kalau bicara masalah fisik, Bram memang bak pemain sinetron. Tapi namanya tidak sreg, ya tidak sreg. Hal begini kan tidak bisa dipaksa-paksa.

Ditengah-tengah asyiknya mengobrol, tiba-tiba Om Rono bicara dengan nada keras, "Bram memang harus punya istri seperti Arni. Supaya dia bisa belajar banyak tentang agama dan tidak lagi keluyuran ke café sampai pagi."

Semuanya langsung terdiam. Tante Rono dan Bram memperlihatkan mimik wajah gusar mendengar kata-kata Om Rono. Aku, ayah, dan ibu juga kaget. Ibu berusaha mencairkan suasana yang jadi sedikit dingin dengan menawarkan sup asparagus kepada kami semua.

Oopss, rupanya Bram ini anak café. Nggak heran juga, terlihat dari gayanya. Sepulangnya mereka dari rumah kami, ayah mengatakan akan mencari informasi lebih jauh tentang Bram. Bagaimana kehidupan dan pergaulannya.

Om dan Tante Rono cukup sholeh. Tapi jaman sekarang orang tua tidak bisa dijadikan standar bagi kesholehan seorang anak. Anak kyai belum tentu jadi kyai. Anak perampok belum tentu perampok juga.

Aku pasrah, memohon kepada Allah diberi jodoh yang terbaik bagiku. Aku percaya karena Dia telah berjanji dalam firmannya Surah An-Nuur 26, "Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji. Dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik pula."

Kalau Bram bukan jodohku, pasti Allah akan tunjukkan jalannya, dan begitu pula jika sebaliknya.

Kabar itu justru datang dari Tante Rono sendiri. Bukan dari siapa-siapa yang menyebarkan gossip. Bukan pula dari Toni, sepupuku yang diberi tugas ayah untuk mencari tahu tentang Bram.

Tante Rono berkunjung ke rumah sambil bercucuran air mata lalu mencurahkan isi hatinya pada ibu. "Jeng, hancur sudah hati saya. Mau ditaruh dimana wajah dan kehormatan keluarga Ronodipuro." Isak Tante Rono sesenggukan. "Memang Bram anaknya susah diatur. Tapi saya tak menyangka semuanya jadi begini. Rasanya kami sudah berusaha mendidiknya dengan benar."

Ibu menenangkan sambil mengusap-usap pundak Tante Rono. "Tenanglah Mbakyu. Yang sabar. Memang ada apa tho?!" Sekonyong-konyong tangisnya malah jadi tak terbendung. Aku bangkit menyodorkan tissue kepada Tante Rono.

"Bram itu Jeng..dia.dia.dia.menghamili sekretarisnya!" Seusai keterbata-bataannya, Tante Rono melanjutkan tangisnya. "Perempuan itu menuntut untuk dinikahi. Kami tak bisa menolak."

"Astaghfirullahaladzhim!!" ujarku dan ibu bersamaan.

Benarlah ini jawaban dari Allah. Bram bukan jodohku. Aku menatap trenyuh kepada Tante Rono. Kasihan, pasti berat sekali bebannya menerima kenyataan darah dagingnya menghamili anak orang di luar nikah. Semoga Bram benar-benar bertobat dan mau memperbaiki dirinya.

"Saya nggak enak sama Jeng, sama Arni," kata Tante Rono setelah tangisnya mereda. "Padahal rencana sudah mau lamaran. Tadinya saya berharap sekali kita bisa besanan. Arni pasti bisa membimbing Bram untuk menjadi lebih baik."

"Sudahlah Mbakyu. Kita tidak apa-apa kok. Keluarga kami tetap akan menjadi sahabat keluarga Mbakyu. Semoga jodoh Bram inilah yang terbaik. Mbakyu yang tabah ya!"

Batalnya perjodohan antara aku dan Bram tidak memberikan dampak apapun pada kehidupanku. Aku tetap memohon jodoh kepada Rabb-ku Yang Maha Mendengar.

Tak sampai sebulan kemudian, dengan tak disangka-sanga, datanglah serombongan keluarga ke rumahku. Mereka hanya punya satu tujuan, melamarku.

Suatu siang di hari Ahad, 10 tahun yang lalu, serombongan keluarga datang. Aku, ayah dan ibu kaget bukan kepalang. Kami tidak mengira akan ada yang datang membawa sepasukan orang dengan berderet mobil yang tiba-tiba sudah rapi parkir di depan rumah. Dua hari sebelumnya Yudhis memang meneleponku. Katanya ia akan ke rumahku Ahad ini. Tapi, siapa yang mengira seperti ini. Kupikir ia sekedar silaturahmi atau ada kepentingan tertentu.







Suatu siang di hari Ahad, 10 tahun yang lalu, serombongan keluarga datang. Aku, ayah dan ibu kaget bukan kepalang. Kami tidak mengira akan ada yang datang membawa sepasukan orang dengan berderet mobil yang tiba-tiba sudah rapi parkir di depan rumah. Dua hari sebelumnya Yudhis memang meneleponku. Katanya ia akan ke rumahku Ahad ini. Tapi, siapa yang mengira seperti ini. Kupikir ia sekedar silaturahmi atau ada kepentingan tertentu.

Dengan sedikit basa-basi, orang tua Yudhis menyampaikan maksud kedatangan mereka untuk melamarku. Ditodong begini aku tak sanggup berkutik. Bunga-bunga di taman hatiku pun semerbak, setelah sekian lama dipendam kini bermekaran.

Ayah, ibu dan keluarga semua menyukai Yudhis. Tentu saja! Apa lagi yang kurang dari seorang Yudhis? Tampan, pandai, kaya, dan sholeh. Ayah Yudhis juga pengusaha sukses, walau kalibernya sedikit di bawah Om Rono.

Yudhis adalah sosok sempurna yang berwujud nyata. Membuat bangga bagi yang menggandengnya. Menyenangkan diajak ngobrol. Tidak memalukan bagi orangtua yang menjadikannya menantu. Dan pasti akan jadi suami yang bisa membimbingku, bisa mengerti aku, dan menjadi pemimpin dalam rumah tangga. Siapalah yang sanggup menolak Yudhis?

Terlihat orangtuaku langsung jatuh hati pada Yudhis. Tapi ayah tetap menyerahkan keputusan padaku, karena akulah yang akan menjalani pernikahan. Aku diam ketika ditanya.

"Arni diam saja, berarti iya. Begitu kan Pak Margono?" ujar ayah Yudhis. Ayah mengangguk-angguk saja.

"Maaf," aku berpaling ke arah Yudhis, "belum bisa langsung menjawab ya atau tidak. Beri aku kesempatan untuk mempertimbangkan dan sholat istikharah."

"Oh monggo, silahkan saja. Kalau Arni butuh waktu, sampaikan saja kira-kira berapa lama akan mempertimbangkan lamaran ini dan kapan akan memberikan jawaban. Tapi jangan lama-lama. Kasian Yudhis lho...!" ayah Yudhis menjawab sambil berseloroh.

Aku diam saja, bingung mau menjawab apa. Aku sendiri tidak tahu berapa lama yang kubutuhkan untuk mengambil keputusan terpenting dalam hidupku ini.

"Begini saja Mas, kita sama-sama berdoa saja semoga semua dimudahkan oleh Allah SWT. Nanti kalau Arni sudah bisa memutuskan, saya yang akan menghubungi Mas Permadi. Bagaimana Mas?" kata ayah.

Ayah Yudhis melirik ke arah Yudhis. Yudhis mengangguk pelan. "Baiklah Pak Margono, kalau memang begitu. Yah, memang sebaiknya hal-hal seperti pernikahan ini tidak terburu-buru menjawabnya. Kami memang tidak mengharapkan ada jawaban saat ini juga. Paling tidak kita sudah silaturahmi, nambah saudara. Kami juga ingin mengenal Arni lebih dekat, juga Bapak dan Ibu sekeluarga. Karena, terus terang kami juga kaget. Yudhis ini nggak ada angin nggak ada hujan, tahu-tahu minta saya dan mamanya untuk melamar. Padahal saya nggak pernah lihat Yudhis itu pacaran. Lha ini anak mau nikah sama siapa tho? Paling tidak kan calonnya mesti dikenalkan dulu, diajak main ke rumah. Bergaul sama keluarga besar. Dilihat bibit, bebet, bobot. Dan itu kan nggak langsung ujug-ujug begini, pakai waktu. Tapi Yudhis ngotot, katanya sistemnya bukan begitu, nggak ada pacaran-pacaran. Ya sudah akhirnya kami berembug dengan keluarga untuk datang hari ini. Kami ini hanya mendapatkan sedikit gambaran tentang Arni dan keluarga dari Yudhis. Jadi kami senang sekali bisa berkenalan dengan Bapak sekeluaga. Kami minta maaf kalau kedatangan kami merepotkan."

"Wah nggak kok Mas, sama sekali tidak merepotkan. Lha malah seneng kok dikunjungi sekeluarga besar begini." Ayah tersenyum menanggapi penuturan ayah Yudhis yang panjang dan lebar. "Kami harap Yudhis bersedia menunggu jawaban dari Arni. Dan kami mohon apapun jawabannya nanti tidak membuat rasa tidak enak diantara kita semua. Mudah-mudahan masih bisa terus bersilaturahmi ya Mas...!"

Malamnya kuceritakan kedatangan Yudhis sekeluarga kepada sahabatku yang juga satu kuliah dengan aku dan Yudhis dulu. Menurutnya, dari informasi yang bisa dipercaya, Yudhis memang sudah menyukaiku sejak kuliah. Oh, itukah sebabnya ia selalu memilihku menjadi sekretaris? Katanya, ketika kabar aku akan dilamar oleh Bram sampai ke telinganya, Yudhis kalang kabut. Dan akhirnya tanpa ba bi bu ia langsung datang melamar.

Akhirnya, Yudhis berhasil membawaku ke pelaminan. Betapa bangganya aku bersanding dengannya. Sang aktivis yang didamba banyak gadis. Dan kenyataannya akulah yang mendapatkannya, setelah menyingkirkan banyak saingan di hati Yudhis. Kudapati tatapan mata cemburu dan iri dari beberapa teman dan adik kelas yang kutahu pernah menyukai Yudhis, saat mereka datang ke resepsi pernikahan kami.

Hari-hari kami selanjutnya tentulah sangat indah. Bak lapis legit yang manisnya selalu ada di setiap gigitan. Tak ada duka. Tak ada lagi gelisah, gundah. Semua yang ada hanyalah bahagia dan bahagia. Lalu cinta kami berbuah. Lahir Ghazali, lalu Sabila. Semuanya menambah manisnya cinta kami.

Di awal pernikahan kami, aku dan Yudhis tetap aktif di dalam kegiatan dakwah dan sosial. Hampir setiap malam kami habiskan dengan tahajud berjamaah.


*****


Kini air mataku mengalir di kedua pipiku. Aku terisak tak bersuara. Memandangi wajah tampan yang tetap terlelap tenang.

Ramadhan yang lalu, tidak lagi kami lewati dengan penuh syahdu. Tak ada tarawih bersama. Tak ada tilawah bersama anak-anak. Jika dihitung, Yudhis hanya sempat 3 kali berbuka puasa di rumah. Sisa yang 27 hari entah berbuka puasa di mana. Ia selalu pulang malam, bahkan Subuh sekalian, setelah orang-orang selesai bersahur.

Beberapa tahun yang lalu, Yudhis sibuk, aku pun sibuk. Sebagai dokter spesialis jantung, Yudhis tergolong dokter muda yang cukup laris. Aku sibuk mengurus anak, rumah, dan praktek di puskesmas. Kesibukan kami membuat tak lagi aktif dan terikat dengan kegiatan dakwah yang sebelumnya kami geluti. Tali temali yang selama ini membentengi, satu persatu mulai putus.

Di awal karirnya, Yudhis sering bercerita ia beberapa kali terlewat waktu sholat kalau sedang ada operasi yang memakan waktu berjam-jam, dari satu waktu sholat ke waktu sholat yang lain. Aku selalu mengingatkan agar ia selalu sholat tepat waktu.

"Kalau lagi operasi mana bisa ditinggal," kata Yudhis saat aku menegurnya. "Masa untuk sholat nggak bisa ditinggal sebentar saja?" kataku.

"Kamu kayak nggak ngerti saja. Kalau ditinggal bisa-bisa pasiennya meninggal. Nanti keluarga pasien menuntut dan menuduh malpraktek. Yah, ini kan darurat, nggak apa-apa kan?" kata Yudhis enteng. Awalnya ia menganggap darurat, tapi kali kesekian saat tidak ada darurat, ia semakin menganggapnya enteng. Aku heran dengan sikapnya yang sangat mudah menggampangkan sholat.

Entah kapan dan bagaimana mulainya, Yudhis mulai sering pulang malam di luar jadwal rumah sakit. Namun, aku percaya penuh padanya. Dan sebagai istri yang baik aku berusaha untuk tak banyak bertanya yang macam-macam. Yudhis mulai mempunyai komunitas tersendiri dalam lingkungannya. Komunitas yang sangat berbeda dengan komunitas kami semasa kuliah dulu.

Ibadah kami sangat garing. Yudhis malas mengimamiku. Kalau ia capek, aku disuruh sholat sendirian. Apalagi Qiyamullail, sudah lama sekali kami tinggalkan. Capek! Begitu selalu alasannya. Hubungan di tempat tidur juga terkena imbasnya. Segala-galanya jadi kering, tanpa ruh. Menjalaninya bagai rutinitas dan kewajiban semata.

Buah cinta kami mulai besar dan mulai nakal. Aku sering kewalahan menghadapinya sendirian. Kalau aku bicara pada Yudhis, jawabnya, "Lho itu tanggung jawabmu sebagai ibu. Kamu bisa mendidik anak nggak sih? Tugasku itu cari uang!"

Ia pasti lupa isi khutbah nikah di pernikahan kami dulu. "Mendidik anak adalah tugas kedua orang tua, baik ibu maupun bapak. Ayah yang menjadi imam harus bisa menjadi nahkoda yang baik bagi biduk rumah tangganya. Dasar-dasar pendidikan itu harus berdasarkan arahan sang ayah."

Kadangkala aku bisa sabar menghadapi Yudhis, tapi kadang pula kami bertengkar hebat. Yudhis semakin sering pulang diatas jam 1 pagi. Kalau kutelepon ke rumas sakit, dijawab kalau Yudhis sudah pulang dan tidak ada jadwal yang mengharuskannya pulang pagi. Walau begitu aku tetap berkata pada diriku sendiri, everything runs smooth, everything is ok.

Jam berapa pun ia pulang, aku tetap berusaha melayaninya. Mulai dari membuatkannya teh, kopi atau susu panas. Atau menyiapkan air panas kalau ia ingin mandi. Secapek apapun aku, kuusahakan sekuat tenaga untuk menyambut kedatangannya dengan senyum.

Yudhislah yang biasa pulang dengan wajah kusut masai dan mata merah. Tanpa senyum. Hanya perintah yang keluar dari bibir merahnya. Kadang-kadang ia bersikap manis. Tapi itu hanya jika ia ingin melampiaskan hasratnya padaku. Aku bukanlah seorang istri yang mau dilaknat oleh malaikat hingga pagi. Tugas seorang istri berusaha kutunaikan dengan baik.

Malam-malam panjang, ketika menanti Yudhis pulang, sering kuisi dengan sholat tahajud. Aku memohon agak Allah membuka kembali hati Yudhis dan memberikan takdir yang baik bagi kami sekeluarga.

"Arni, aku ada berita nih! Tapi kamu jangan kaget ya. Kamu percaya kan sama aku? Ini tentang Yudhis," suara Toni, sepupuku, terdengar di HPku. Aku mengangguk walau tahu ia tak akan melihat anggukanku.

"Aku beberapa kali ini melihat suamimu. Pertama kali aku lihat dia lagi makan siang sama perempuan yang rambutnya dicat kemerahan di Chopstix Pondok Indah Mall. Nggak jauh kan dari tempat suamimu praktek."

Toni melanjutkan, "Bukan cuma itu, aku pernah nguntit suamimu itu ke beberapa tempat. Afterhour, D'S Place, Barbados."

"Oh ya?" kataku datar.

"Kamu kok nggak kaget?" tanya Toni.

"Kaget? Memang kenapa?" tanyaku bingung.

"Arni! Itu tuh tempat dugem, tau nggak?" jawab Toni.

"Du...gem?"

"Itu lho dunia gemerlap. Afterhour itu bar dan tempat billiard. Yang dua lagi yah semacam itu, sama saja. Aku lihat Yudhis sama cewek dengan mata kepala sendiri. Percaya deh, dia minum minuman, turun ke floor, peluk-pelukan sama cewek sok bule itu." Nada suara Toni berapi-api penuh emosi.

Aku tak percaya, gumam bathinku. Tapi tak urung, tangan ini gemetar memegang HP. "Kamu salah orang mungkin Ton. Orang yang mirip Yudhis."

"Salah orang bagaimana. Jelas banget gitu kok! Aku ngeliat dia sekitar jam 1 malem lewat. Dia sering nggak ada di rumah nggak kalau jam-jam segitu?"

Aku tersentak. Ya, Yudhis memang sering pulang pagi, dan ia nyata-nyata tidak sedang tugas di rumah sakit. Tapi...main billiard, minum, berpelukan dengan perempuan...? Rasanya sulit hati ini mempercayainya.

Hari ini, baru saja, semua pertanyaan yang bergumul di hatiku dan segala hal yeng menjadi rahasia selama ini terkuak lebar. Yudhis berkata jujur padaku bahwa ia mencintai perempuan lain, ingin bercerai dariku dan akan menikahi perempuan itu. DUARRRRRRR!!!!!! Bagai disambar geledek rasanya jantungku. Aku limbung.

"Baru kali ini aku benar-benar merasakan jatuh cinta. Maaf, sejak dulu aku tak pernah merasa mencintai kamu Arni. Aku mau ceraikan kamu!" Bibir itu berkata dingin, seolah tak sedang berbicara dengan istri yang telah mendampinginya sepuluh tahun ini. Bagaimana mungkin ia mengaku tak mencintaiku. Semuanya begitu manis. Aku tak percaya ia berkata begitu.

"Yudhis, sadarkah apa yang baru saja kamu katakan? Kamu baru saja menjatuhkan talak!"

"Memang begitulah mauku. Akhir-akhir ini aku merasa begitu hidup. Bergairah dan penuh cinta. Aku merasa bahagia dengan Meta. Kita urus perceraian secepatnya. Besok kita ke Pengadilan Agama." Kata-katanya dingin menusuk. "Sore nanti aku akan pindah. Sekarang aku mau numpang tidur sebentar. Di sofa di luar sini juga nggak apa-apa. Aku capek!"

"Mas, apa benar kamu sering ke tempat-tempat dugem?" aku memberanikan diri bertanya.

"Hahhhh?! Dari mana kamu tahu?" teriak Yudhis.

"Toni. Dia bilang beberapa kali lihat kamu. Sedang bersama perempuan dan minum-minum."

"Hmmm, jadi selama ini kamu kirim sepupumu itu jadi mata-mata heh?! Betul. Si Toni nggak salah lihat. Ohhh...pantas saja aku merasa pernah lihat dia."

"Ngapain sih Mas kamu ke tempat-tempat seperti itu?" aku bertanya sambil menahan tangisku yang hampir saja meledak.

"Ah kamu tahu apa tentang tempat seperti itu. Aku merasa senang di sana. Dan apa pula urusanmu. Kita sudah cerai, kamu nggak berhak turut campur lagi. Ini hidupku tahu?!"

"Masya Allah Mas, istighfar Mas, istighfar...kamu lagi lupa diri Mas! Cepatlah bertobat"

"Hhhahhhhhhh...SUDAH DIAM!!!!" bentak Yudhis kasar sambil menghempaskan tubuhnya di sofa empuk yang terletak di ruang tamu. Tak berapa lama kemudian dengkur halusnya terdengar.

Begitu Yudhis terpejam tangisku tumpah ruah. Tak pernah terbayangkan sebelumnya Yudhis akan jadi seperti ini. Sang manusia sempurna bagi sebagian orang yang mengenalnya. Yudhis, yang semasa muda tak pernah mengenal tempat-tempat seperti itu. Yudhis, yang dulunya selalu membasahi bibirnya dengan berzikir. Yudhis, yang selalu menjaga wudhu, tak mau bersentuhan dengan wanita selain mahramnya. Yudhis, yang dulu lingkungannya selalu orang-orang yang baik.

Tapi sekarang??? Ketika lingkungan berubah, ia pun berubah. Menjadi manusia yang 180 derajat berpindah ke sisi lain dunia. Siapa yang akan mengira.

Aku menangis, membenamkan wajahku ke bantal. Ghazali memelukku dari belakang. "Mama, kenapa nangis?"

"Nggak kok sayang. Nggak papa," aku mengusap air mata yang berurai. Ya Allah, lalu bagaimana nasib Ghazali dan Sabila tanpa ayahnya. Aku tak sangup lagi berpikir.

Di atas sajadah, aku mengadu kepada Rabbku yang Maha Mendengar hambanya yang tengah kesusahan. Aku pun sadar tidak seluruhnya adalah kesalahan Yudhis, pasti aku ada mempunyai andil. Aku terlalu mencintainya, memujanya. Bahkan cintaku padanya mungkin melebihi cintaku pada Allah. Mungkin ini teguran Allah bagiku, yang sering lupa padaNya. Yang menjadikan kecintaanku pada mahluk melebihi segala-galanya.

Satu episode hidupku telah berusaha kulalui dengan tetap berada di jalanNya. Dahulu, aku memutuskan menikah dengan Yudhis berdasarkan istikharah. Pada waktu itu aku ridho dengan agamanya. Sebagaimana pesan Baginda Rasulullah SAW agar tidak menolak pinangan laki-laki yang agamanya baik. Jika tidak maka akan terjadi fitnah di muka bumi. Dengan berbagai pertimbangan itu aku menerima lamaran Yudhis. Jadi salahkah aku kalau semuanya berakhir seperti ini?

Tiada kesempurnaan bagi seorang manusia. Allahlah yang Maha Membolak-balik hati manusia. Salahkulah yang mengharapkan kesempurnaan dari Yudhis, yang menganggap ia adalah segala-galanya tak bercacat. Padahal setiap orang tak pernah tahu bagaimana akhir hidupnya.

Aku masih hidup dan bernafas. Ini bukan akhir hidupku. Aku yakin Allah pasti punya rencana yang lebih baik di balik semua ujian yang diberikannya. Kekalutan dan ketakutanku perlahan sirna. Aku tak perlu khawatir dengan hidupku, hidup anak-anakku kelak. Allah-lah yang menjamin hidupku. Dia tak akan menelantarkan hambaNya.

Inilah takdir yang telah ditetapkan olehNya. Dan ini pasti yang terbaik bagi kami semua. Semoga saja Allah membukakan kembali hati Yudhis yang telah kelam dan mengembalikannya kepada kehidupan yang dulu.

Kupandangi lagi wajah tampan di seberang aku duduk saat ini. Nanti sore ia akan pergi dari rumah ini, pindah ke apartemen Meta, perempuan yang sering bersamanya di tempat dugem. Dan esoknya, kami akan ke Pengadilan Agama, mengurus perceraian.

Tangisku tetap ada, jiwaku tetap remuk redam, tapi hatiku terhibur olehNya. Satu episode hidup telah kulalui. Ketika cinta harus usai maka hidup harus terus berlanjut. Hati kecilku bertanya, kepada siapakah sebenarnya cintaku kupersembahkan? Kepada Yudhis ataukah Allah. Cinta sesungguhnya tak pernah usai. Kuusap lelehan tangisku. 

Selasa, 16 Agustus 2011

AKuntansi

Laporan akuntansi

Akuntansi disebut sebagai bahasa bisnis karena merupakan suatu alat untuk menyampaikan informasi keuangan kepada pihak-pihak yang memerlukannya. Semakin baik kita mengerti bahasa tersebut, maka semakin baik pula keputusan kita, dan semakin baik kita di dalam mengelola keuangan. Untuk menyampaikan informasi-informasi tersebut, maka digunakanlah laporan akuntansi atau yang dikenal sebagai laporan keuangan. Laporan keuangan suatu perusahaan biasanya terdiri atas empat jenis laporan, yaitu neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan modal, dan laporan arus kas.

  • Neraca, adalah suatu daftar sistematis yang memuat informasi mengenai aktiva, utang dan modal suatu perusahaan pada akhir periode tertentu. Disebut sebagai daftar yang sistematis, karena neraca disusun berdasarkan urutan tertentu. Dalam neraca dapat diketahui berapa jumlah kekayaan perusahaan, kemampuan perusahaan membayar kewajiban serta kemampuan perusahaan memperoleh tambahan pinjaman dari pihak luar. Selain itu juga dapat diperoleh informasi tentang jumlah utang perusahaan kepada kreditur dan jumlah investasi pemilik yang ada di dalam perusahaan tersebut.
  • Laporan laba rugi, adalah ikhtisar mengenai pendapatan dan beban suatu perusahaan untuk periode tertentu, sehingga dapat diketahu laba yang diperoleh dan rugi yang dialami.
  • Laporan perubahan modal, adalah laporan yang menunjukkan perubahan modal untuk periode tertentu, mungkin satu bulan atau satu tahun. Melalui laporan perubahan modal dapat diketahui sebab-sebab perubahan modal selama periode tertentu.
  • Laporan arus kas, dengan adanya laporan ini pemakai laporan keuangan dapat mengevaluasi perubahan aktiva bersih perusahaan, struktur keuangan (termasuk likuiditas dan solvabilitas) dan kemampuan perusahaan di dalam menghasilkan kas dimasa mendatang.

 Siklus Akuntansi

Untuk Membuat Laporan Keuangan, terdapat delapan langkah, yang dikenal dengan Siklus Akuntansi. kedelapan langkah tersebut adalah:
  1. Transaksi keuangan
  2. Mencatat segala transaksi keuangan, berdasarkan bukti asli transaksi, dalam satu periode akuntansi
  3. Membuat Jurnal Umum berdasarkan catatan no.2
  4. Membuat Buku Besar
  5. Membuat Jurnal Penyesuaian
  6. Membuat Laporan Keuangan: Laporan Laba rugi, Neraca, dan Leporan Perubahan Modal
  7. Membuat Jurnal Penutup
  8. Membuat Neraca Saldo setelah penutupan

Jenis-jenis akuntansi

Laporan rugi/laba

 

Neraca