Kamis, 18 Agustus 2011

Cahaya di Taman Langit Paris




Cahaya di Taman Langit Paris (Salli Syawaliaeni)


Florence, Italia. 4 November 1966
Malam ini, ketika semua orang sedang tertidur nyenyak dan sungai Arno meluap serta merta membanjiri seluruh bagian kota Florence yang kaya akan seni dan sejarah, ditutupi oleh lapisan air, lumpur dan minyak. Di beberapa bagian pusat kota paras air mencapai 9m1, di hari di mana tragedi kota Florence ini terjadi aku lahir ke dunia, di tengah hiruk-pikuk musibah yang menenggelamkan kota Florence kota kelahiran para seniman, dan kota favorit seniman seperti Giotto, Andrea del Catagna dan Donatello. Dan padre2 memberiku nama Maria della Robbia karena padre dan madre3 menginginkanku kelak seperti Bunda Maria yang mengabdikan diri pada Tuhan.

Florence, 15 Juli 1972
Hari ini aku, Maria della Robbina akan bersekolah! Hari ini aku akan masuk scuola elementare4, dan aku akan masuk asrama di Santa Maria Del Fiore. Sekolah itu bersebelahan dengan Gereja Santa Maria del Fiore, yang terkenal dengan kubah Brunelleschi, gereja itulah tempat padre mengabdikan diri sebagai seorang hamba Tuhan sekaligus sebagai misionaris. Madre dan padre memang seorang pemeluk agama Katolik Roma yang sangat fanatik, selain karena katolik Roma memang agama mayoritas di Italia yang mencapai 99%, hanya 0,5% yang memeluk Protestan, 0,25% menganut Yahudi dan sejumlah kecil yang menganut ortodoks Yunani.

Sejak kecil madre dan padre sudah menanamkan agama yang sangat kuat, karena itu setiap tahun kami selalu menyempatkan diri mengunjungi Vatikan atau Roma yang menjadi pusat agama Kristen terbesar yaitu katolik Roma. Selain itu kelak jika aku sudah besar madre dan padre akan menyarahkan kepada gereja sebagai biarawati yang akan menjadi bukti kesetiaan mereka pada Tuhan. Tapi aku sendiri tidak begitu mengerti, yang aku tahu hari ini aku akan sekolah dan aku senang sekali! Tapi ternyata di sekolahku ini aku mulai dengan perasaan kecewa, Sono Contrariatois5! Bukan karena aku masuk asrama putri tetapi karena di sekolahku ini banyak bernyanyi, Sonodisgustato6! Kupikir agamaku ini kurang kerjaan selain bernyanyi, non mi piace troppo7! Bukan karena aku tidak pandai menyanyi, tapi kupikir masih banyak yang berguna dari pada sekedar menyanyi!

Florence, 10 Agustus 1986
Akhirnya aku lulus sekolah, setelah 14 tahun aku berada di asrama, Kini aku diberi waktu 5 tahun untuk kuliah sebelum menjadi biarawati. Hati kecilku kadang bertanya, kenapa aku harus sekolah tinggi-tinggi untuk menjadi seorang biarawati. Tapi yang penting aku suka sekali belajar! Dan yang sama sekali tidak kusukai adalah menjadi seorang biarawati, tapi aku tidak bisa menolak. Keinginan madre dan padre karena aku mencintai mereka, aku tak mau mereka kecewa, walau menurutku banyak yang aneh dengan konsep trinitas? Dan hal aneh lainnya yang terdapat pada kitab Perjanjian Baru! Rencananya setelah mengikuti Laurea9 aku akan masuk Universitas Florence, yang menjadi tujuan bagi pelajar seluruh dunia karena fakultasnya yang termasyur dan termasuk universitas tertua dan paling terhormat di dunia. Sono felice10 ! Aku bekerja keras agar dapat menjadi seorang mahasiswi di Universitas Florence. Hari ini juga padre dan madre mengajakku ke Istana Keadilan dan Kota Vatikan di tepi sungai Tiber11 sebagai hadiah karena aku lulus sebagai terbaik, selain itu kata madre dan padre sebagai sarana mendekatkan diri pada Yesus sang anak Tuhan, sebelum aku jadi seorang biarawati!

Florence, 08 September 1986
Hari ini hasil kerja kerasku terlihat hasilnya! Aku lulus dan diterima di Universitas Florence dengan jurusan Filsafat, karena aku pikir, ini Bouno idea12! Aku suka filsafat. Filsafat mengajarkan kita untuk berpikir bijaksana, mendalam dan menukik dalam memahami dan memandang sesuatu hal. Filsafat sangat dibutuhkan, karena lebih menyandarkan pada akal budi manusia! Jadi orang yang mengerti filsafat adalah orang yang berakal dan berbudi!

Florence, 15 September 1986
Aasse…13 Universitas Florence selain klasik dan indah juga sangat luas, di sini benar-benar membuat orang semangat belajar! Dan kupikir di sini hanya untuk orang-orang terpilih! Mi piace…14

Florence, 25 Desember 1987
Hari natal ini ada yang istimewa selain misa ke Vatikan. Tidak ada tukar menukar hadiah, karena keluarga kami, Della Robbia15 termasuk keluarga yang masih memegang tradisi natal kuno yaitu dengan menyimpan pertukaran hadiah untuk pesta Epiphany yaitu pesta yang mengingatkan kembali akan hadiah yang dibawa oleh 3 orang Majus kepada bayi Yesus. Tapi bukan itu yang istimewa, yang istimewa adalah aku terpilih sebagai wakil pertukaran pelajar ke Paris, kota yang sudah lama ingin kukunjungi karena keindahannya terutama menara Eiffel dan Paris 17!

Florence, 26 Desember 1987
Hari yang kutunggu, karena hari ini aku akan pergi ke Paris, di hadapanku madre menangis melepaskan aku anak semata wayangnya sekolah di Perancis. Madre memang kadang berlebihan. “lo deteste quello,”16 kata madre sambil menangis. “Allegria, madre. Calma gente, stai bene.”17 aku berusaha menenangkan madre dan menghiburnya.
“non piangere. Ti amero!”18 kataku sambil berusaha tersenyum. Madre, aku juga berat jauh dari madre dan padre.

Paris, 11 Januari 1988
Tak terasa sudah setengah bulan aku di kota Mode ini dan semuanya berjalan menyenangkan tampaknya. Paris sangat ramah padaku walau aku belum menemukan banyak teman, karena aku tidak suka dengan cara bergaul anak muda di sini, yang menurutku terlalu berlebihan. Mungkin aku yang terlalu kuno, tapi kupikir belajar lebih berguna ketimbang pesta pora yang tidak jelas. Aku melamun, kupikir aku salah masuk ruangan. Karena yang aku lihat adalah orang-orang yang berwajah Arab, Asia dan Negro. Tadinya aku akan keluar untuk mengikuti kelas Aristotelian, tapi di sebelahku duduk seorang keturunan Arab dan dia Carino. Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku tertarik pada seorang pria karena kulihat raut wajahnya yang tenang dan ada pancaran cahaya yang menyejukan. Aku pun tersenyum dan menyapanya.

“Bonsoir. Comment vous appelez-vous?”19 tanyaku, dia berbalik dan tersenyum, “Je m’appelle Ibrahim.”20
Aku mengulurkan tangan seraya berkata, “Je m’appelle Maria.”21 Tapi dia tidak menjabat tanganku melainkan merapatkan kedua tangannya dan ditariknya ke dada. Aku heran dan sedikit tersinggung. Dari Ibrahim juga aku tahu kalo ini kelas agama Islam, kelas para teroris begitu kata padre, tapi kok sepertinya Ibrahim tidak mungkin jadi teroris, begitu juga yang lainnya tampaknya mereka ramah dan cerdas.

Paris, 12 Januari 1988
Di perpustakaan aku bertemu Ibrahim. Entah mengapa aku jadi mendekatinya aku ingin menanyakan apa itu buku yang tebal seperti Injil tapi tulisannya Arab. Dan kata Ibrahim itu adalah Al-Quran kitab suci orang Islam. Moyen ’union Islam!22 lagi-lagi Ibrahim menjaga jarak denganku. Kenapa sih orang Islam aneh-aneh?

Paris, 22 Januari 1988
Semenjak aku masuk kelas agama Islam aku jadi tak pernah absen untuk mengikuti kelas itu karena aku sangat penasaran pada tingkah aneh mereka. Bukan hanya Ibrahim, tapi juga Fatimah yang memakai kain suster di kepalanya. Waktu aku tanya katanya itu jilbab, dari Fatimah aku menjadi tahu bahwa setiap wanita Islam yang sudah haid wajib menutup seluruh tubuh dan kepalanya dengan jilbab dan pakaian takwa, kecuali telapak tangan dan wajahnya. Aku tidak mengerti mengapa Islam menyuruh umatnya yang wanita jadi tidak menarik seperti Fatimah, walau sebenarnya dia cantik sekali dengan wajah Arab-Perancis-nya! Aneh, kupikir aku harus menyelidiki ini!

Paris, 23 November 1988
Aku di sini, di Paris 17, salah satu pusat wisata di Paris dan aku berdiri di sebelah gereja tua yang sangat bersejarah, gereja Sacre coer, dan dari bukit ini akan tampak jelas seluruh panorama kota Paris semuanya jelas dan dipenuhi lampu-lampu juga cahaya kelap-kelip kunang-kunang industri, selain itu juga dari sini terlihat aliran sungai Siene yang membelah kota Paris, mengingatkanku pada madre dan padre di Florence, mi macherai…23 akh madre dan padre sono cosi confuso24. Setelah hari itu di mana aku bertanya pada Fatimah, aku semakin tertarik pada Islam. Bersama Fatimah aku sering mengikuti kajian agama Islam di Islamic Center yang rutin kuikuti 2 minggu sekali. Yang membuatku tersentuh adalah keramahan dan kehangatan mereka, sekalipun mereka tahu aku adalah seorang Katolik Roma. Semua pertanyaanku mereka jawab dengan jelas dan sederhana, agar aku mudah mencernanya. Fatimah dan Sarah (adik Ibrahim) mengajarkanku membaca Al-Qur’an, dan dari semua itulah aku mulai menemukan segala jawaban atas pertanyaanku, dan Islam itu sangat sempurna, karena mengatur segala kehidupan manusia sampai akhir jaman, dari hal yang terkecil sampai yang besar. Aku tersentuh oleh Al-Qur’an terutama ayat yang mengatakan: Dzalikal kitaabu laa raaiba fiihi (tidak ada keraguan di dalamnya (Al-Quran). Je suis d’accord!25 dan banyak konsep-konsep yang logis, yang dijelaskan di Al-Qur’an. Dan ternyata aku salah karena ternyata Islam tidak aneh, tapi dulu otak kulah yang tak mencapainya, Islam agama yang pintar, agama orang-orang yang punya pikiran cerdas. Ternyata dalam Islam ada adab dalam bergaul antara laki-laki dan perempuan karena ada alasan kuatnya. Islam agama yang logis, berarah pada pencegahan! Islam terlalu suci, agung dan sempurna. Sarah juga membacakan arti dari surat Maryam ayat 16-40, tentang kisah Maryam sebenarnya dan juga tentang pengangkatan Isa, Sarah bilang yang penting bukan cuma bacanya, tapi pada pemahaman dan pengalamannya!

Sekarang aku merasa begitu bodoh, karena pernah mengganggap Nabi Isa itu Yesus, masa kalo emang bener Tuhan kok tidak dihormati malah disalib? Kok kitab Perjanjian Baru itu diubah 25 tahun sekali mengikuti zaman, tidak seperti Al-Quran yang sepanjang masa! Kitab suci yang mengikuti manusia?

Paris, 25 Desember 1988
Hari ini aku resmi menjadi seorang muslimah. Pagi tadi aku telah mengucapkan syahadat di masjid Islamic Center, di hadapan imam Abu-i-Abbas al-Saffah aku seperti menandatangani sebuah kontrak untuk masuk Islam secara kaffah dan mengikuti segala ketentuannya. Namaku-pun berubah menjadi Siti Maryam, agar kelak aku dapat seperti Siti Maryam. Dan mulai hari ini juga aku menutup semua auratku. Seperti firman Allah dalam surat An-Nur: 31. Ibrahim, Sarah, Fatimah, Yasid, Sulaiman, Zainab, Rabi’ah dan semua teman-teman di Islamic Center juga teman di kelas agama Islam mengucapkan selamat bahkan mereka memberiku hadiah seperti jilbab.

Alhamdulillah, akhirnya aku menjadi bagian dari mereka. Sejenak pikiranku melayang pada madre dan padre mungkin mereka sedang merayakan natal, tadi malam mereka menelponku mengucapkan selamat natal, aku diam saja. Mungkin apabila mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku, mungkin mereka akan membunuhku, tapi aku hars bisa menghadapi semua yang terjadi, bukankah Islam mengajarkan untuk tetap berbakti pada kedua orang tua sekalipun berbeda agama. Bismillah.. “Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (Al-Hajj: 40).

Paris, 08 Februari 1990
Sudah 3 tahun aku tidak pulang ke Florence. Ada banyak alasan yang membuatku tidak pulang. Selain jadwal kuliah yang padat, juga karena di sana aku akan sulit melaksanakan ibadah. Tapi kali ini tidak ada alasan untuk tidak pulang, selain karena aku akan wisuda, aku juga harus memberi tahukan rencana pernikahanku dengan Ibrahim sekaligus memberi tahukan pada mereka bahwa aku sudah memeluk agama Islam.

Akhir-akhir ini aku juga merasakan ada sesuatu yang selalu mengintaiku, maka sebelum pergi kutinggalkan sepucuk surat untuk Ibrahim yang kuserahkan melalui Sarah, adiknya. Aku pasrahkan semua yang akan terjadi kepada Allah SWT, karena Allah-lah sebaik-baiknya pelindung (Al-Hajj: 78). Je n’aipa le temps26, aku harus cepat pulang!

Florence, 09 Februari 1990
Aku berjalan di Ponte Vecchio-“si jembatan tua”—yang melintas di atas sungai Arno. Senang rasanya kembali ke sini. Berjalan lagi di tepi sungai Arno seperti aku kecil bersama madre dan padre aku sering jalan-jalan di sini, ternyata tidak ada berubah. Di sini toko-toko yang elok dan suasana yang aristrokratis. Tapi aku sudah berubah. Maafkan aku madre dan padre telah mengecewakan kalian. Apapun resikonya akan kuterima. Sesampainya di rumah bukan senyum manis yang biasa menghiasi bibir madre yang menyambutku, tapi raut wajah marah padre yang belum pernah kulihat sebelumnya, serta air mata kekecewaan madre. Mereka memandangku dari ujung jilbab hingga ujung jubahku. Ternyata mereka sudah lama mencium gelagatku masuk Islam, karena sudah lama seorang misionaris di Paris memberitahu mereka, dan mengintaiku. Aku mengerti mereka kecewa, tapi seharusnya mereka dengar dulu penjelasanku, dan sedikit membuka mata untuk mengenal Islam. Bukan malah menyeretku dengan kasar dan membuka kerudungku dengan paksa, bukan hanya itu, gamisku pun mereka sobekkan.

Mengapa mereka sekejam ini pada anaknya sendiri, darah daging mereka, madre hanya menangis, sedangkan padre dan beberapa orang teman padre di persekutuan memotong rambutku sampai botak, aku hanya bisa berzikir, aku yakin Allah akan menolongku! Seraya melafazkan “hasbunallahu wa ni’mal wakiil.” (cukuplah Allah sebagai penolong kami dan dia sebaik-baiknya pelindung). Aku ingat cerita tentang nabi Ibrahim yang diceritakan oleh Monsieur Hisham di kelas agama Islam. Nabi Ibrahim akan dilemparkan ke dalam api dan menjadi dinginlah api itu setelah nabi Ibrahim melafazkan doa itu. Maka selamatlah Nabi Ibrahim. Allahu Akbar!

Florence, 11 FEbruari 1990
Aku berada di gereja St. Maria Fiore. Di hadapanku ada pastur-pastur, para biarawati dan para jemaat. Tampaknya persembahan ku mereka percepat, mereka akan menjadikanku biarawati, tapi takkan kubiarkan ini terjadi, aku tidak akan menjual aqidahku walau demi nyawaku. Aku sudah mencintai Allah. Saat itu aku terus membaca dengan lantang tentang surat At-Taubah ayat 40 “Jangan bersedih. Sungguh Allah bersama kita.”28 Kata parde sambil menendangku, subhanallah…dan tanpa dikomando mulutku mengeluarkan kata Allahu Akbar. “Smettila didir cazzate, Maria. Non essere pirla.”29 Bentak padre. Walau begitu aku tidak merasa gentar, meskipun kemudian padre bilang Ti uccido30, karena katanya aku sudah berkhianat pada Tuhan, gereja, orang tua, dan menyebabkan aib maka aku harus dibunuh.

Tak lama kemudian tendangan, pukulan, cacian bahkan ludah semua mengarah padaku. Kurasakan sekujur tubuhku ngilu, darah segar mengalir dari mulutku, kepalaku sakit karena beberapa kali mereka membenturkan kepalaku ke lantai, aku hanya bisa pasrah pada Allah , berdzikir dan berdoa “Allahumma innii a’udzubika min jaladil faajir wa’ajzits tsiqoh.” ( Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari kekuatan orang fasiq dan kelemahan orang yang dapat dipercaya). Tiba-tiba seseorang menembakkan peluru sambil berteriak lantang “Vai in kasino.”31 dan tepat mendarat di punggungku. Allahu Akbar! Asshadu allaillahaillallah waashaduanna Muhammadaa Rasulullah, insya Allah hari ini aku pergi dengan indah karena dalam keadaan istikomah. “Allahummah dinii wa saddidnii.” (Ya Allah, berikanlah petunjuk kepadaku dan berikanlah kepadaku sikap istikomah dan ketepatan dalam segala urusan). Tak terasa air mataku mengalir dan senyumku mengembang mengiringi kepergianku. Allah …aku datang untuk bertemu denganmu.
***
Paris, 08 Fevrier321990

Tidak ada komentar:

Posting Komentar